Kalau diukur dengan mental status examination, isi pembicaraan saya mungkin dianggap melompat-lompat dan tidak sinkron. Tapi ini kan tulisan, bukan ngomong. Jadi sebenernya enggak peduli sih saya mau tulis apa di sini. Masa bodo.
I dont care.
Hmmm, sudah berapa hari ya, seminggu lebih mungkin. Terganggukah saya? Tidak ternyata. Ternyata tidak sesulit itu. Tapi kalau kamu memulainya lagi, mungkin lebih susah bagi saya untuk menghindar.
Berkali-kali saya mencoba untuk menahan diri, mencoba ikut-ikutan angkuh, tapi saya selalu kalah. Saya yang lelah jadinya.
Kalau kata Lenka: "I wont let him win but Im a sucker for his charm".
Kamu enggak tahu sih, bagaimana bisa tahu kalau saya sendiri juga nggak tahu. Berulang kali menyesal dan bilang "yaaah" tapi enggak berguna juga. Menyesal itu remorse, itu emosi kompleks campuran dari emosi dasar sadness dan disgust, kata Plutchik.
Saya sudah berjanji ke diri saya, dan bahkan janji itu saya langgar sendiri. Seharusnya saya menyiapkan punishment tiap kali melanggar, supaya saya jera.
Itu teori, saudara-saudara.
Lalu apa lagi, saya nggak tahu betapa saat ini dan saat itu bisa begitu berbeda.
Mengenang, lalu saya jadi sentimen, hei ini tidak mudah.
Entah kapan saya tidak lagi jadi parasit, saya mau hubungan kita simbiosis mutualisme, bukan parasitisme begini. Maaf.
Berbeda ya, saat saya mengangguk setuju, kamu menggeleng, saat saya berpendapat begini, kamu bilang sebaliknya. Ya sudahlah, memang jauh sekali ya isi pikiran kita. Kamu rasional, saya di luar batas. Bagaimana bisa kita bicara tenang-tenang.
Tapi inkonsistensi terjadi sungguhan, sebenarnya saya jengkel, tapi entah kenapa saya senyum-senyum terus, dasar kamu penyihir.
Tampilkan postingan dengan label kata pikiran saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kata pikiran saya. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 26 Maret 2011
Sesi Curhat #2
Di kamar saya sekarang ada kalender, sudah bulan ketiga tapi baru pasang kalender. Enggak apa juga, toh masih ada sembilan bulan lagi.
Tiap lihat kalender, saya jadi kangen rumah, karena di rumah banyak kalender dan bapak saya suka melingkari tanggal dan membuat catatan di situ. Saya kasih tahu ya, tulisan bapak saya susah banget dibaca, jadi catetan itu hanya beliau yang tahu. Kayaknya kalo nulis diary juga nggak ketauan, hehe.
Jadi ingat dulu saya sering diminta koreksi jawaban ulangan murid-murid bapak, terus kalo ada surat pasti ibu yang nulis, karena tulisan ibu bagus. Saya suka diminta membantu koreksi, tapi kalo kebanyakan capek juga, berlembar-lembar loh, satu kelas empat puluh anak, terus setidaknya ada empat kelas. Waktu saya masuk SMA tempat bapak ngajar, terus kenal senior, saya sekilas ingat, oh ini mas yang pinter, oh ini mbak yang nilainya segini, atau oh ini toh mas yang tulisannya bagus. Cuma tahu nama, enggak kenal muka, haha.
Tahun di kalender saya 2011, ya iyalah karena sekarang emang tahun segitu. Tapi saya pernah masuk ke rumah yang di dindingnya ada kalender tahun 1999-2010 yang masih dipasang. Keren sekali. Berarti sejak saya umur sembilan sampai sekarang dua puluh. Kalendernya masih aja dipasang, semuanya menunjukkan bulan desember, gambarnya mbak-mbak cantik, kebanyakan kalender gratisan dari toko emas.
Bapak saya juga masih menyimpan rekening listrik dari pertama kali punya rumah sampai sekarang. Kemarin dulu waktu saya minta dikirimin rekening listrik dan telepon buat persyaratan beasiswa, bahkan bapak nanya mau dikirim yang dari taun berapa, sementara saya cuma butuh tiga bulan terakhir. Ah, ada ada aja ya bapak saya. Terus bapak juga rajin menyimpan arsip, kami punya satu folder masing-masing, punya bapak, punya ibu, punya saya, punya beti, punya obi, dan punya dona. Saya sebut semuanya karena kangen. Di folder itu ada akte, ijazah, piagam, nilai rapot dari kelas satu SD, bahkan potongan kalender bulan kelahiran saya, kuitansi rumah sakit, dan sebagainya. Tring tring tring.
Kalau ibu saya suka mengantisipasi. Saya kemarin minta dikirimi slip gaji bapak-ibu dan kartu keluarga, butuhnya cuma selembar sebetulnya. Tapi ibu kirim masing-masing lebih dari tiga rangkap, buat cadangan, begitu.
Terus tiap saya mau balik ke depok, pasti dibawain macem-macem. Padahal saya udah bilang enggak usah. Tapi tetap aja, kata beliau sedikit, tau-tau kok sekardus, kalau-kalau ada teman yang main, kan ada cemilan begitu kata beliau.
Lalu tiap ada tugas prakarya dari sekolah, ibu yang ribut siap-siap. Soalnya saya suka lupa, kalau nggak jauh-jauh hari ngomongnya, bisa-bisa diomelin ibu. Setiap malam selalu diminta beresin tas buat besok paginya. Dulu saya nggak habis pikir, maksudnya kan bisa besok pagi aja sebelum berangkat sekolah. Tapi kata ibu, takut ada tugas yang belum dikerjain atau takut besok bangun kesiangan, atau apa lagi yang lain. Saya orangnya males sih, jadi kadang saya enggak beresin tas, dan betul, paginya saya kelabakan. Sekarang saya yang ribut ke obi dan dona kalau lagi di rumah, minta beres-beres tas mereka malamnya. Like mother, like daughter.
Kelar ujian ini saya kepengen pulang, kangen juga ketemu si Mio, udah gede belum ya. Tapi saya baru selesai ujian hari Kamis lalu Seninnya kuliah kayak biasa, pulang enggak pulang enggak pulang enggak pulang..
Tiap lihat kalender, saya jadi kangen rumah, karena di rumah banyak kalender dan bapak saya suka melingkari tanggal dan membuat catatan di situ. Saya kasih tahu ya, tulisan bapak saya susah banget dibaca, jadi catetan itu hanya beliau yang tahu. Kayaknya kalo nulis diary juga nggak ketauan, hehe.
Jadi ingat dulu saya sering diminta koreksi jawaban ulangan murid-murid bapak, terus kalo ada surat pasti ibu yang nulis, karena tulisan ibu bagus. Saya suka diminta membantu koreksi, tapi kalo kebanyakan capek juga, berlembar-lembar loh, satu kelas empat puluh anak, terus setidaknya ada empat kelas. Waktu saya masuk SMA tempat bapak ngajar, terus kenal senior, saya sekilas ingat, oh ini mas yang pinter, oh ini mbak yang nilainya segini, atau oh ini toh mas yang tulisannya bagus. Cuma tahu nama, enggak kenal muka, haha.
Tahun di kalender saya 2011, ya iyalah karena sekarang emang tahun segitu. Tapi saya pernah masuk ke rumah yang di dindingnya ada kalender tahun 1999-2010 yang masih dipasang. Keren sekali. Berarti sejak saya umur sembilan sampai sekarang dua puluh. Kalendernya masih aja dipasang, semuanya menunjukkan bulan desember, gambarnya mbak-mbak cantik, kebanyakan kalender gratisan dari toko emas.
Bapak saya juga masih menyimpan rekening listrik dari pertama kali punya rumah sampai sekarang. Kemarin dulu waktu saya minta dikirimin rekening listrik dan telepon buat persyaratan beasiswa, bahkan bapak nanya mau dikirim yang dari taun berapa, sementara saya cuma butuh tiga bulan terakhir. Ah, ada ada aja ya bapak saya. Terus bapak juga rajin menyimpan arsip, kami punya satu folder masing-masing, punya bapak, punya ibu, punya saya, punya beti, punya obi, dan punya dona. Saya sebut semuanya karena kangen. Di folder itu ada akte, ijazah, piagam, nilai rapot dari kelas satu SD, bahkan potongan kalender bulan kelahiran saya, kuitansi rumah sakit, dan sebagainya. Tring tring tring.
Kalau ibu saya suka mengantisipasi. Saya kemarin minta dikirimi slip gaji bapak-ibu dan kartu keluarga, butuhnya cuma selembar sebetulnya. Tapi ibu kirim masing-masing lebih dari tiga rangkap, buat cadangan, begitu.
Terus tiap saya mau balik ke depok, pasti dibawain macem-macem. Padahal saya udah bilang enggak usah. Tapi tetap aja, kata beliau sedikit, tau-tau kok sekardus, kalau-kalau ada teman yang main, kan ada cemilan begitu kata beliau.
Lalu tiap ada tugas prakarya dari sekolah, ibu yang ribut siap-siap. Soalnya saya suka lupa, kalau nggak jauh-jauh hari ngomongnya, bisa-bisa diomelin ibu. Setiap malam selalu diminta beresin tas buat besok paginya. Dulu saya nggak habis pikir, maksudnya kan bisa besok pagi aja sebelum berangkat sekolah. Tapi kata ibu, takut ada tugas yang belum dikerjain atau takut besok bangun kesiangan, atau apa lagi yang lain. Saya orangnya males sih, jadi kadang saya enggak beresin tas, dan betul, paginya saya kelabakan. Sekarang saya yang ribut ke obi dan dona kalau lagi di rumah, minta beres-beres tas mereka malamnya. Like mother, like daughter.
Kelar ujian ini saya kepengen pulang, kangen juga ketemu si Mio, udah gede belum ya. Tapi saya baru selesai ujian hari Kamis lalu Seninnya kuliah kayak biasa, pulang enggak pulang enggak pulang enggak pulang..
Sesi Curhat #1
Earth hour itu artinya jam bumi, atau bumi jam terserah kamu mau bilang apa.
Orang-orang diminta mematikan lampu dari jam setengah sembilan sampai jam setengah sepuluh. Tapi saya tidak, tetangga kostan juga tidak.
Malah mereka berisik banget pakai speaker dan banyak lampu karena ada turnamen futsal kalo gak salah.
Saya bukannya mau jahat sama bumi, kalau saya matiin lampu nanti saya ngantuk terus ketiduran terus enggak belajar. Saya matikan lampu saat keluar makan tadi, dan selama tidur sampai pagi dan siang juga saya matikan lampu. Saya enggak jahat kan ya?
Saya dari tadi baca tapi enggak masuk-masuk materinya. Besok senin itu metode pengukuran bakat dan inteligensi.
Kepala saya lagi cenat-cenut, sampai waktu saya tutupin kepala pakai bantal terdengar bunyi "nyut-nyut" begitu.
Saya obrak-abrik laci dan nemu obat sakit kepala, mau minum tapi takut nanti ngantuk. Lagi-lagi belajar. Gimana ya caranya biar cepat hafal?
Enggak ngerti ini.
Seharian cuma di kamar, kapan lagi bisa santai begini. Kayak orang sakit tapinya ya.
Saya bahkan enggak punya kartu PKM, ke rumah sakit di dekat kostan cuma jengukin teman. Kalau sakit cuma cenat-cenut sebentar (semoga). Saya anak sehat, haha.
Orang di luar berisik sekali ya, bolak-balik, mondar-mandir. Apalagi di jalan raya di depan, pasti macet karena malam minggu.
Terus asapnya kemana-mana, kasian ya atmosfernya. Kayaknya lebih cenat-cenut lagi.
Ngomong-ngomong tentang cenat-cenut, saya jadi ingat smash, jumat kemarin penasaran nonton sinetron mereka sama temen-temen terus bukannya memahami cerita, malah ketawa-ketawa karena konyol, hahaha begitu.
Terus juga saya enggak suka banget sama iklan kartu as yang snow white, soalnya pake bawa-bawa mba kuntinya xl.
Kenapa sih kartu as sensi banget sama xl semenjak sule jadi bintang iklannya? Emangnya xl salah apa yak?
Kemaren baim dibawa-bawa, sebelumnya sule ngomong "udah kapok diboongin anak kecil", terus sekarang mba kuntinya dibawa-bawa. Enggak jelas.
Saya jadi agak enggak suka sama xl dan sule, kasian ya mereka kehilangan satu penggemar.
Moodswing, kayaknya begitu, apa mungkin karena saya lagi pusing ya.
Saya pengen main kemana gitu tapi kan saya lagi ujian.
Kata orang tua sih kalo kebanyakan ketawa nanti pasti nangis. Saya enggak mau ketawa-ketawa pas main terus nangis pas ujian. Tapi capek juga, saya jadi pingin joget-joget.
Pusing pusing pusing. Hiks.
Orang-orang diminta mematikan lampu dari jam setengah sembilan sampai jam setengah sepuluh. Tapi saya tidak, tetangga kostan juga tidak.
Malah mereka berisik banget pakai speaker dan banyak lampu karena ada turnamen futsal kalo gak salah.
Saya bukannya mau jahat sama bumi, kalau saya matiin lampu nanti saya ngantuk terus ketiduran terus enggak belajar. Saya matikan lampu saat keluar makan tadi, dan selama tidur sampai pagi dan siang juga saya matikan lampu. Saya enggak jahat kan ya?
Saya dari tadi baca tapi enggak masuk-masuk materinya. Besok senin itu metode pengukuran bakat dan inteligensi.
Kepala saya lagi cenat-cenut, sampai waktu saya tutupin kepala pakai bantal terdengar bunyi "nyut-nyut" begitu.
Saya obrak-abrik laci dan nemu obat sakit kepala, mau minum tapi takut nanti ngantuk. Lagi-lagi belajar. Gimana ya caranya biar cepat hafal?
Enggak ngerti ini.
Seharian cuma di kamar, kapan lagi bisa santai begini. Kayak orang sakit tapinya ya.
Saya bahkan enggak punya kartu PKM, ke rumah sakit di dekat kostan cuma jengukin teman. Kalau sakit cuma cenat-cenut sebentar (semoga). Saya anak sehat, haha.
Orang di luar berisik sekali ya, bolak-balik, mondar-mandir. Apalagi di jalan raya di depan, pasti macet karena malam minggu.
Terus asapnya kemana-mana, kasian ya atmosfernya. Kayaknya lebih cenat-cenut lagi.
Ngomong-ngomong tentang cenat-cenut, saya jadi ingat smash, jumat kemarin penasaran nonton sinetron mereka sama temen-temen terus bukannya memahami cerita, malah ketawa-ketawa karena konyol, hahaha begitu.
Terus juga saya enggak suka banget sama iklan kartu as yang snow white, soalnya pake bawa-bawa mba kuntinya xl.
Kenapa sih kartu as sensi banget sama xl semenjak sule jadi bintang iklannya? Emangnya xl salah apa yak?
Kemaren baim dibawa-bawa, sebelumnya sule ngomong "udah kapok diboongin anak kecil", terus sekarang mba kuntinya dibawa-bawa. Enggak jelas.
Saya jadi agak enggak suka sama xl dan sule, kasian ya mereka kehilangan satu penggemar.
Moodswing, kayaknya begitu, apa mungkin karena saya lagi pusing ya.
Saya pengen main kemana gitu tapi kan saya lagi ujian.
Kata orang tua sih kalo kebanyakan ketawa nanti pasti nangis. Saya enggak mau ketawa-ketawa pas main terus nangis pas ujian. Tapi capek juga, saya jadi pingin joget-joget.
Pusing pusing pusing. Hiks.
Rabu, 09 Maret 2011
Kelabu
Seperti hari yang lalu, saya masih mencintai warna kelabu.
Atau hitam.
Atau putih.
Tergantung suasana hati.
Tergantung kau bilang apa.
Hanya sedetik bunyi dan sebarisan abjad bisa membuat saya salah tingkah.
Ingin, saya ingin kau tahu, lagu itu yang kau nyanyikan dengan malu-malu.
Dan celotehmu tentang hari itu.
Saya ingat dengan jelas, semuanya.
Berbaris di sini, menjadi jajaran pagar merah jambu.
Ingin ditanyai juga: Sedang apa? Sakit apa? Kenapa?
Bukannya kata-kata itu.
Yang sama yang membuat saya bosan dan merasa tidak dipedulikan.
Kalau bilang saya sedih saya pasti bohong.
Kalau bilang saya tidak sedih saya juga bohong.
Entah, warnanya kelabu.
Atau hitam.
Atau putih.
Tergantung suasana hati.
Tergantung kau bilang apa.
Hanya sedetik bunyi dan sebarisan abjad bisa membuat saya salah tingkah.
Ingin, saya ingin kau tahu, lagu itu yang kau nyanyikan dengan malu-malu.
Dan celotehmu tentang hari itu.
Saya ingat dengan jelas, semuanya.
Berbaris di sini, menjadi jajaran pagar merah jambu.
Ingin ditanyai juga: Sedang apa? Sakit apa? Kenapa?
Bukannya kata-kata itu.
Yang sama yang membuat saya bosan dan merasa tidak dipedulikan.
Kalau bilang saya sedih saya pasti bohong.
Kalau bilang saya tidak sedih saya juga bohong.
Entah, warnanya kelabu.
Minggu, 06 Februari 2011
Love Philosophy


The fountains mingle with the river
And the rivers with the Ocean,
The winds of Heaven mix forever
With a sweet emotion;
Nothing in the world is single;
All things by a law divine
In one spirit meet and mingle.
Why not I with thine?
See the mountains kiss high Heaven
And the waves clasp one another;
No sister-flower would be forgiven
If it disdained its brother;
And the sunlight clasps the earth
And the moonbeams kiss the sea:
What is all this sweet work worth
If thou kiss not me?

The fountains mingle with the river
And the rivers with the Ocean,
The winds of Heaven mix forever
With a sweet emotion;
Nothing in the world is single;
All things by a law divine
In one spirit meet and mingle.
Why not I with thine?
See the mountains kiss high Heaven
And the waves clasp one another;
No sister-flower would be forgiven
If it disdained its brother;
And the sunlight clasps the earth
And the moonbeams kiss the sea:
What is all this sweet work worth
If thou kiss not me?
Percy Bysshe Shelley
from: here
Jumat, 04 Februari 2011
XOXO
tik tok tik tok
i want this:
and this
huuuungry *LOL
i want this:
and this
huuuungry *LOLa little bit sad, still wanna being a free-person, no study, no work, nothing to think
holiday: OVER, huweeee
saya sudah packing (dengan merana)
bawaan saya banyak T.T
holiday: OVER, huweeee
saya sudah packing (dengan merana)
bawaan saya banyak T.Tmalam ini berangkat, besok nyampe, tiduran bentar, tarik napas, tidur lagi dua hari.
seninnya kuliah.
maunya semangat, sungguh.
mari ucapkan basmallah: Bismillahirrohmanirrohim
Ya Alloh, saya berniat kuliah dengan baik semester ini, ridhoi ya Alloh, tolong zizah ya Alloh.
fighting XOXO
laugh everyday and be happy :)
seninnya kuliah.
maunya semangat, sungguh.
mari ucapkan basmallah: Bismillahirrohmanirrohim
Ya Alloh, saya berniat kuliah dengan baik semester ini, ridhoi ya Alloh, tolong zizah ya Alloh.
fighting XOXO
laugh everyday and be happy :)
Rabu, 02 Februari 2011
I Promise (for real)
Memejamkan mata tentu saja tidak mengubah segalanya, kamu cuma tidak melihat hal-hal yang tidak ingin kamu lihat.
Terkadang saya berpikir bagaimana kalau saya menciptakan dunia sendiri dan hidup di sana selama-lamanya. Tanpa ada yang mempengaruhi saya harus ngapain dan saya harus ngomong apa.
Bebas, kayak burung.
Eh tapi burung juga hidup di dunia yang diciptakan Tuhan ya.
Burung terbang dan bernapas dan mencari makan dan semuanya udah diatur sama Tuhan, nggak peduli burung itu kenal Tuhan atau gak.
Saat hujan, dimana burung bersembunyi? Bisakah dia terbang saat sayapnya basah?
Bisa kayaknya, saya juga kurang tahu.
Umm, sekarang hujan.
Saya pingin minum kopi dan guling-guling di kasur.
Pingin makan biskuit Genji juga, itu loh yang bentuknya hati, saya suka.
Hari ini Rabu, dan saya seharian geje di rumah, memikirkan bagaimana besok kuliah semester enam. Memikirkan itu bikin saya sakit perut, cenat-cenut.
Saya pengen merem aja, pengen terbang juga.
Saya ingin tidak peduli.
Tapi kenapa saya terlonjak bahkan saat mendengar bunyi sedikit saja?
Padahal saya sudah berjanji mau mengabaikan. Sudah abaikan saja. Abaikan. Acuhkan. Lebih baik makan.
Saya lapar.
Keteraturan, ya. Saya percaya segalanya sudah diatur.
Bahkan mimpi yang muncul, khayalan yang tercipta, dan semuanya.
Kadang khayalan saya jadi nyata, tapi gak sesering mendung menjadi hujan.
Saya menginginkan sesuatu, memvisualisasikan, dan voila..terjadilah.
Tapi hanya sekedar hal-hal kecil, tidak besar, hanya sekecil bulan, tak sebesar Betelgeuse.
Kamu tahu Betelgeuse?
Betelgeuse itu bintang, yang besarnya 550 kali matahari.
Jika matahari adalah kancing bulat kecil yang superkecil, maka Betelgeuse adalah bola pantainya Teletubbies.
Saya mencintai Betelgeuse sejak pertama kali melihatnya di buku astronomi waktu SD dulu.
Kemarin saya melihatnya lagi dan masih terkagum-kagum kayak orang bodoh.
Kalau bumi kita sebesar Betelgeuse, mungkin kita tidak akan ditakdirkan bertemu.
Tapi kalau ketemu juga, itu namanya kesalahan, umm..mungkin.
Sudahlah, ini kepulangan yang terakhir, setelah itu kunci pintunya dan saya pergi.
Bye.
Terkadang saya berpikir bagaimana kalau saya menciptakan dunia sendiri dan hidup di sana selama-lamanya. Tanpa ada yang mempengaruhi saya harus ngapain dan saya harus ngomong apa.
Bebas, kayak burung.
Eh tapi burung juga hidup di dunia yang diciptakan Tuhan ya.
Burung terbang dan bernapas dan mencari makan dan semuanya udah diatur sama Tuhan, nggak peduli burung itu kenal Tuhan atau gak.
Saat hujan, dimana burung bersembunyi? Bisakah dia terbang saat sayapnya basah?
Bisa kayaknya, saya juga kurang tahu.
Umm, sekarang hujan.
Saya pingin minum kopi dan guling-guling di kasur.
Pingin makan biskuit Genji juga, itu loh yang bentuknya hati, saya suka.
Hari ini Rabu, dan saya seharian geje di rumah, memikirkan bagaimana besok kuliah semester enam. Memikirkan itu bikin saya sakit perut, cenat-cenut.
Saya pengen merem aja, pengen terbang juga.
Saya ingin tidak peduli.
Tapi kenapa saya terlonjak bahkan saat mendengar bunyi sedikit saja?
Padahal saya sudah berjanji mau mengabaikan. Sudah abaikan saja. Abaikan. Acuhkan. Lebih baik makan.
Saya lapar.
Keteraturan, ya. Saya percaya segalanya sudah diatur.
Bahkan mimpi yang muncul, khayalan yang tercipta, dan semuanya.
Kadang khayalan saya jadi nyata, tapi gak sesering mendung menjadi hujan.
Saya menginginkan sesuatu, memvisualisasikan, dan voila..terjadilah.
Tapi hanya sekedar hal-hal kecil, tidak besar, hanya sekecil bulan, tak sebesar Betelgeuse.
Kamu tahu Betelgeuse?
Betelgeuse itu bintang, yang besarnya 550 kali matahari.
Jika matahari adalah kancing bulat kecil yang superkecil, maka Betelgeuse adalah bola pantainya Teletubbies.
Saya mencintai Betelgeuse sejak pertama kali melihatnya di buku astronomi waktu SD dulu.
Kemarin saya melihatnya lagi dan masih terkagum-kagum kayak orang bodoh.
Kalau bumi kita sebesar Betelgeuse, mungkin kita tidak akan ditakdirkan bertemu.
Tapi kalau ketemu juga, itu namanya kesalahan, umm..mungkin.
Sudahlah, ini kepulangan yang terakhir, setelah itu kunci pintunya dan saya pergi.
Bye.
Selasa, 01 Februari 2011
Tragedi Mimpi
Lagi-lagi saya kepingin cerita tentang SIAK-NG.
Jadi begini, tanggal 27 Januari kemarin itu hari terakhir buat ngatur-atur si jadwal di siak. Nah, tanggal itu juga saya berangkat untuk Bakti Desa di Giritirto.
Saya berangkat dengan hati riang dan senang dan tanpa beban.
Selama 3 hari saya bersenang-senang, menyeberang sungai, main bareng anak SD, dan ngerusuhin kampung orang.
Di Giritirto saya sama sekali enggak dapet sinyal, makanya saya terkucil tanpa berita dari luar. Karena itu pula, saya lupa bahwa jadwal di siak saya masih ada yang bentrok dan perlu dibereskan sebelum tanggal 27.
Karena ketidaktahuan itu saya tenang-tenang saja tanpa dosa melaksanakan kegiatan Bakti Desa. Ngeeek.
Tanggal 29 malam (ini malam Minggu) saya baru sampai rumah lagi dan langsung melampiaskan kerinduan saya pada sinyal dan internet.
Cek siak dan ooh, saya siok.
Irs saya belum disetujui, dan jadwal perubahan udah lama lewat.
Jadilah malam minggu itu saya panik dan berdebar-debar (ini apa deh bahasanya).
Malam itu juga, saya sms pemimbing akademik saya untuk minta tolong.
Jam sebelas malam. Sungguh mahasiswa yang tidak sopan --".
Untung PA saya langsung bales, meskipun saya dimarahin kenapa gak beresin dari kemarin. Saya diminta menghubungi manajer pendidikan, dan karena panik dan hectic saya langsung aja sms malam itu.
Gak dibales.
Tengah malem: belum dibales.
Jam satu saya belum bisa tidur: belum juga dibales.
Jam satu lebih satu menit saya tidur.
Dan mimpi aneh.
Begini mimpinya (saya ingat banget):
Di mimpi itu saya keliling kampus sendirian kayak orang gila dan bertemu banyak orang berambut kribo. Saya nanya: dimana saya bisa ngurus siak?
"Di lantai atas", jawab mas-mas kribo yang (kayaknya) Giring Nidji.
Saya lari hup hup ke lantai atas, dan di atas ada taksi.
Terus saya ditanyain mau kemana. Saya jawab mau ketemu PA saya, mbak bla bla bla.
Saya pun diantar, tapi entah kenapa taksinya berubah jadi motor.
Jalannya jelek banget, dan setelah saya ingat-ingat lagi: "Wah, ini kan jalan ke Giritirto, berarti jauh ya Pak", saya bilang begitu.
"Iya, rumah mbak bla bla bla memang di sana, semua dosen juga kompleksnya disana", kata bapak taksi motor.
Akhirnya sampailah saya ke sebuah rumah yang banyak tanaman warna biru dan merah. Bapak taksi motor menghilang dan saya udah bertatap muka sama PA saya.
PA saya adalah Cut Tari (ini di mimpi saya, sumpah deh).
Mbak-PA-Cut-Tari itu lagi sibuk sekali, saya diminta sms manajer pendidikan dengan hapenya.
Saya sms dan menunggu.
Langsung dibalas.
Bukan dari manajer pendidikan, tapi dari Roger Danuarta.
Mbak-PA-Cut-Tari bilang: "Baca aja, bacain yang keras ya"
Saya baca, smsnya begini: "Eh cin, lo malem ini gue tunggu di Atrium jam 1 am, tapi bentaran aja ya, soalnya abis itu paginya kita musti menghibur Syahrini, secara baru ditinggal bokapnya"
Mbak-PA-Cut-Tari tambah heboh begitu mendengar sms itu dan bilang bahwa dia harus buru-buru. Saya juga ikutan heboh dan bertanya-tanya mau dibawa kemana siak saya. Lalu Mbak-PA-Cut-Tari menelpon manajer pendidikan dan kata beliau siak sudah gak bisa diubah-ubah lagi karena udah ditandatangani presiden SBY.
Saya bingung dan kepingin nangis.
Dan saya bangun.
Saat kebangun saya lebih deg-degan lagi dari malamnya.
Entah kenapa semalaman mimpi saya dipenuhi para artis, itu tidak menghibur, sungguh.
Hari Minggu itu saya bad mood dan gak nafsu ngapa-ngapain, meskipun saya masih makan tiga piring seperti biasa.
Saya khawatir kalau disuruh ngurus ke Depok, sementara belum ada tiket pulang di tangan.
Saya menanti dan menanti kayak lagunya Nikita Willy.
Akhirnya (untunglah) manajer pendidikan membalas sms saya hari Senin dan saya dinasihatin supaya tidak meminta pelayanan mahasiswa di weekend.
Alhamdulillah siak saya beres. Yah segampang itu.
Ah ini ending ceritanya gak asik banget, antiklimaks, saya kebelet pipis soalnya. Dadadadadadah.
Jadi begini, tanggal 27 Januari kemarin itu hari terakhir buat ngatur-atur si jadwal di siak. Nah, tanggal itu juga saya berangkat untuk Bakti Desa di Giritirto.
Saya berangkat dengan hati riang dan senang dan tanpa beban.
Selama 3 hari saya bersenang-senang, menyeberang sungai, main bareng anak SD, dan ngerusuhin kampung orang.
Di Giritirto saya sama sekali enggak dapet sinyal, makanya saya terkucil tanpa berita dari luar. Karena itu pula, saya lupa bahwa jadwal di siak saya masih ada yang bentrok dan perlu dibereskan sebelum tanggal 27.
Karena ketidaktahuan itu saya tenang-tenang saja tanpa dosa melaksanakan kegiatan Bakti Desa. Ngeeek.
Tanggal 29 malam (ini malam Minggu) saya baru sampai rumah lagi dan langsung melampiaskan kerinduan saya pada sinyal dan internet.
Cek siak dan ooh, saya siok.
Irs saya belum disetujui, dan jadwal perubahan udah lama lewat.
Jadilah malam minggu itu saya panik dan berdebar-debar (ini apa deh bahasanya).
Malam itu juga, saya sms pemimbing akademik saya untuk minta tolong.
Jam sebelas malam. Sungguh mahasiswa yang tidak sopan --".
Untung PA saya langsung bales, meskipun saya dimarahin kenapa gak beresin dari kemarin. Saya diminta menghubungi manajer pendidikan, dan karena panik dan hectic saya langsung aja sms malam itu.
Gak dibales.
Tengah malem: belum dibales.
Jam satu saya belum bisa tidur: belum juga dibales.
Jam satu lebih satu menit saya tidur.
Dan mimpi aneh.
Begini mimpinya (saya ingat banget):
Di mimpi itu saya keliling kampus sendirian kayak orang gila dan bertemu banyak orang berambut kribo. Saya nanya: dimana saya bisa ngurus siak?
"Di lantai atas", jawab mas-mas kribo yang (kayaknya) Giring Nidji.
Saya lari hup hup ke lantai atas, dan di atas ada taksi.
Terus saya ditanyain mau kemana. Saya jawab mau ketemu PA saya, mbak bla bla bla.
Saya pun diantar, tapi entah kenapa taksinya berubah jadi motor.
Jalannya jelek banget, dan setelah saya ingat-ingat lagi: "Wah, ini kan jalan ke Giritirto, berarti jauh ya Pak", saya bilang begitu.
"Iya, rumah mbak bla bla bla memang di sana, semua dosen juga kompleksnya disana", kata bapak taksi motor.
Akhirnya sampailah saya ke sebuah rumah yang banyak tanaman warna biru dan merah. Bapak taksi motor menghilang dan saya udah bertatap muka sama PA saya.
PA saya adalah Cut Tari (ini di mimpi saya, sumpah deh).
Mbak-PA-Cut-Tari itu lagi sibuk sekali, saya diminta sms manajer pendidikan dengan hapenya.
Saya sms dan menunggu.
Langsung dibalas.
Bukan dari manajer pendidikan, tapi dari Roger Danuarta.
Mbak-PA-Cut-Tari bilang: "Baca aja, bacain yang keras ya"
Saya baca, smsnya begini: "Eh cin, lo malem ini gue tunggu di Atrium jam 1 am, tapi bentaran aja ya, soalnya abis itu paginya kita musti menghibur Syahrini, secara baru ditinggal bokapnya"
Mbak-PA-Cut-Tari tambah heboh begitu mendengar sms itu dan bilang bahwa dia harus buru-buru. Saya juga ikutan heboh dan bertanya-tanya mau dibawa kemana siak saya. Lalu Mbak-PA-Cut-Tari menelpon manajer pendidikan dan kata beliau siak sudah gak bisa diubah-ubah lagi karena udah ditandatangani presiden SBY.
Saya bingung dan kepingin nangis.
Dan saya bangun.
Saat kebangun saya lebih deg-degan lagi dari malamnya.
Entah kenapa semalaman mimpi saya dipenuhi para artis, itu tidak menghibur, sungguh.
Hari Minggu itu saya bad mood dan gak nafsu ngapa-ngapain, meskipun saya masih makan tiga piring seperti biasa.
Saya khawatir kalau disuruh ngurus ke Depok, sementara belum ada tiket pulang di tangan.
Saya menanti dan menanti kayak lagunya Nikita Willy.
Akhirnya (untunglah) manajer pendidikan membalas sms saya hari Senin dan saya dinasihatin supaya tidak meminta pelayanan mahasiswa di weekend.
Alhamdulillah siak saya beres. Yah segampang itu.
Ah ini ending ceritanya gak asik banget, antiklimaks, saya kebelet pipis soalnya. Dadadadadadah.
Kamis, 21 Oktober 2010
Jendela
Kamis, 21 Oktober 2010 06:59


Bulan ini saya hidup ditemani jendela, ditemani langit, ditemani matahari di siang hari, ditemani tetesan hujan, embun, angin dan bulan di malam hari.
Rasanya menyenangkan, ada jendela di kamar saya sekarang.
Saya merasa bisa menggambar di langit kapanpun,mengucap salam pagi, bisa menatap jalanan, menghitung orang yang datang dan pergi.
Semuanya datang dan pergi.
Tidak ada yang berlama-lama.
Dengan langkah-langkah satu-satu. Satu-tuk dua-tuk tiga-tuk.
Saya menyukai jendela. Saya menyukai yang bisa saya lihat darinya.
Saya pernah punya jendela lain, yang sama indah dan menyenangkan. Jendela dimana saya mengantarmu berangkat dan menjemputmu pulang.
Jendela di rumah seberang bertirai merah muda.
Jendelaku bertirai kuning tua.
Apa warna tiraimu?
Rabu, 20 Oktober 2010
Ingatan

Rabu, 20 Oktober 2010, 6:08
Pagi diawali dengan sapaan "are you ready kids-ready captains-i can't hear you-ready captains..."
Yah, saya tahu kamu semua familiar dengan sapaan tersebut.
Beberapa tahun lagi, apakah saya akan masih ingat dengan kalimat-kalimat itu? Semoga..
Dulu, jaman saya masih muda, saya familiar dengan kata-kata katalis, enzim telomerase, peptin, stoikiometri, gravitasi, gaya berat, dan sebagainya.
Sekarang?
Saya cuma ingat waktu guru saya menuliskan kata 'stoikiometri' di papan tulis, saya tertakjub-takjub(?).
Nulisnya aja susah, apalagi ngomongnya --"
Ingatan saya selebihnya?
Nggak ada.
Saya tahu semua hal terus berjalan maju. Semuanya, kecuali kendaraan yang mundur, orang kurang kerjaan jalan mundur, jam yang diputar mundur, dan undur-undur.
Dan pikiran kita bisa maju mundur, dengan kecepatan super.
Tapi ingatan kita tidak super.
Saya tidak bisa mengingat semua sensasi yang pernah masuk, saya tidak bisa mengingat semua persepsi yang pernah saya rasakan.
Saya tidak memberi cukup atensi ke banyak hal sehingga mereka bisa masuk ke ingatan jangka panjang saya.
Saya tidak ingat tulisan-tulisan di iklan yang saya lihat sekilas.
Saya tidak ingat siapa saja yang ada di warteg waktu saya sarapan kemarin.
Saya tidak ingat berapa nomer hape teman sd saya.
Saya tidak ingat apa yang dikatakan dosen waktu saya kuliah psikometri kemarin.
Tetapi saat saya memberi perhatian dan memberikan sedikit perasaan untuk suatu hal, secara otomatis mereka ada di ingatan jangka panjang saya, nggak bisa lupa.
Saya ingat lirik lagu di iklan Sinta-Jojo. Ingat banget malah.
Saya ingat film yang saya tonton kemarin, detailnya.
Saya ingat perjalanan saya waktu mudik lebaran kemarin.
Saya ingat berapa uang yang ada di dompet saya.
Saya ingat bahwa beasiswa saya belum turun juga, mungkin ada kaitannya sama penggantian rekening saya tempo hari.
Semua hal-hal itu, hanya hal-hal kecil yang saya beri sedikit perhatian.
Cuma sedikit saja.
Apalagi untuk hal yang saya beri perhatian lebih, yang saya berikan segenap rasa.
Bukan cuma nempel di ingatan jangkan panjang.
Tapi sudah terukir, dipahat. Permanen. tidak bisa dihapus.
Di antara hal-hal yang itu, ada kamu, dia, dan mereka.
Orang-orang tersayang yang mengisi hari-hari saya dengan senyum, perhatian, bantuan, tangisan, sakit hati, semuanya.
Kamu, dia, dan mereka saya simpan di kotak khusus yang judulnya VIP. Very Important Person. To me.
Sekarang, apakah kamu juga punya kotak kayak gitu?
Apa saya juga diberi perhatian lebih?
Apa saya masuk ke ingatan jangka panjangmu?
Apakah kamu bisa mengingat saya tanpa perlu susah payah memutar ingatan maju mundur?
Kalau iya, itu cukup. Terimakasih ya.
Rabu, 29 September 2010
Deklarasi
Rabu, 29 September 2010
15 Hal yang (Tidak) Harus Kamu Tahu Tentang "Saya":

1. Saya benci menjadi kelinci yang selalu takut-takut memandang ke atas, ke langit, dan berlari tiap ada sedikit bayangan kecil. Yang dia kira elang.
Saya ingin memandang langit dengan bebas, tanpa takut. Berlari. Atau mengepak?
Apa saya harus jadi elang untuk itu?
2. Saya pernah berjanji ke diri saya sendiri untuk menuliskan sesuatu hal baik tentang orang lain lakukan ke saya, supaya suatu saat saya bisa membalasnya.
Tetapi ternyata saya tidak sanggup, banyak sekali.
Mungkin saya butuh kitab yang tebal, saking banyaknya yang harus saya tulis.
3. Saya suka mengamati orang. Dari cara jalan, cara berpakaian, cara berbicara. Menakjubkan sekali ya orang-orang itu. Mungkin bisa diadakan penelitian mengenai sifat-sifat orang dengan cara observasi saja. Suruh ayam mengobservasi, dan mereka akan menulis: Kreatif kali orang-orang tu, kaum awak dibuat bermacam-macam lauk di warung (ayamnya dari Malaysia).
Tapi carilah ayam yang obyektif, jangan ayam yang pilih kasih. Nanti dia cuma tulis yang baik-baik tentang majikannya. Nggak valid.
4. Saya suka sekali bermimpi. Mimpi saya akhir-akhir ini kayak labirin. Kadang saya terbangun di mimpi yang lain. Sampai-sampai pas bangun betulan saya bingung, ini mimpi atau bukan. Saya siapa hari ini? Saya? Aku? Kamu? Atau kupu-kupu?
5. Saya profesional dalam berteman. Saya pernah punya bermacam-macam teman. Saya tahu bahwa saya harus menjauh dari teman yang suka menjelek-jelekkan orang lain karena suatu saat pasti dia akan menjelek-jelekkan saya di depan orang lain. Yah, bukannya ada yang bisa dijelek-jelekkan dari saya sih. Haha.
6. Saya tidak tahu siapa yang benar-benar mengenal saya sendiri. Bahkan diri saya pun tidak. Tiap hari saya belajar hal baru mengenai diri saya sendiri. Saya baru tahu saya begini, bahwa saya begitu. Mencoba dan menguji. Lalu direparasi. Kayak mesin.
7. Saya suka sekali quote "A secret makes a woman, woman". Makanya saya suka heran sama orang yang hobi sekali mengumbar setiap detik kegiatan atau perasaannya di jejaring sosial. Atau hobi sekali curhat mengenai setiap detik dan detail kehidupannya. Saya pikir: Wah, mereka kayak buku yang bisa dibaca tiap lembarnya, pake kaca pembesar pula. Jelas, sampai kita bisa kenal dia luar dalam cuma dari facebook/twitter/apalah itu namanya.
8. Saya sangat menyukai kata "misterius". Kelihatan keren. Membuat penasaran. Inilah kenapa saya ingin sekali jadi mata-mata dan hobi saya nonton Spy Kids.
9. Saya masih 19 tahun saat saya menulis ini. Saya nggak mau buru-buru 20. Kepala dua. Makanya saya ingin menikmati saat-saat usia remaja yang membahagiakan ini. Saya suka menjadi yang termuda di antara teman-teman saya. Jangan lupa ya, sembilan-belas, belum dua-puluh. I'm not a girl, yet a woman.
10. Saya suka membuat orang lain merasa spesial. Siapa sih yang tidak suka di-spesial-kan? Cukup dengan hal-hal kecil saja kamu sudah bisa membuat orang lain merasa spesial. Tersenyumlah dan sapa saat bertemu. Ucapkan "selamat" di hari bahagianya. Bagi bingkisan kecil saat dia ulang tahun. Lupakan hutang-hutang kecil. Dengarkan ceritanya. Ingat hal-hal tentangnya. Mudah bukan?
11. Saya sedih kalau saya tidak peka. Sayangnya ini sering sekali terjadi. Saya sering menjadi orang yang terakhir tahu mengenai kabar teman-teman saya. Tentang suatu peristiwa. Saya terkadang lupa dan ceroboh. Membuat saya menyesal karena saya tidak tahu lebih awal. Kan saya bisa membantu kalau tahu. Kan saya bisa berusaha. Kan...(tapi telat, huks huks).
12. Saya tidak manja. Sungguh saya berusaha untuk tidak manja. Tolong jangan bilang saya manja. Sebagai anak sulung yang punya tiga adik saya tidak boleh manja.
13. Saya menyukai saat namamu muncul di layar ponsel saya. Sadarkah kamu saya tak butuh waktu lama untuk membalas pesanmu?
14. Saya mencintai bulan yang indah. Saya bercita-cita tidur di atap kostan. Sudah pernah sih, tapi cuma sebentar. Sekarang mungkin udah nggak bisa karena langitnya tertutup gedung apartemen yang baru dibangun itu.
15. Saya suka rangkaian kata-kata. Saya suka menulis sms. Saya suka merangkai huruf.
Abcdefghijklmnopqrstuvwxyz...abc lagi
Dari 26 huruf saja sudah bisa terciptakan banyak kata dan makna yang menakjubkan.
Kalau saya jadi huruf, saya mau jadi huruf Z.
Z yang ada dua di nama saya.
Z yang jarang dipakai.
Zzzzz yang berarti tidur. Saya suka tidur. Suka suka suka sekali sampai sekarang saya mau tidur saja.
Selasa, 21 September 2010
I wonder: Could it be, when i was dreaming about you baby, you were dreaming of me?
Sejak kecil saya sudah tahu, hal-hal yang terjadi saat kita tidur itu namanya mimpi.
Keterikatannya tidak bisa dipredikisi. Saya nggak pernah tahu kapan saya akan bangun dari mimpi saya.
Mimpi mengikat dengan mata yang terpejam.
Dengan tali dari pohon hitam pohon putih dan berupa pelangi.
Dan angin. Lalu terbang.
Domba domba membantu saya tidur malamnya.
1 2 3 4 5...99 lompat hup hup.
Dan kemudian saya tidak ingin terbangun paginya.
Pagi basah. Mata saya basah. Hati saya basah.
Tapi saya nggak ngompol kok, kasur saya nggak basah.
Mungkin saya gelisah. Sah-sah-sah. Kayak suara penyanyi dangdut yang mendesah-desah.
Aaah, mikirnya saja sudah bikin saya pusing.
Kejadian hujan: Jauh lebih indah dari itu: Mimpi saya.
Mari kita menari berputar-putar.
Kau tidur di bantal hijau. Tersenyum miring seperti biasa.
yfyxgx,k,Hiolhoigxoow..
Maaf maaf barusan konslet, ada iklan sosis so nice-nya sinta jojo.
Disturbing advertise. Sungguh.
Saya jadi nggak konsentrasi.
Terenggut oleh pesona feromon.
Feromon itu apa ya?
Haha.
Kali ini saya ingin jadi cenayang. Cenayang yang gaul tentunya.
Tidak mau pakai hitam-hitam dan bergaya gothic.
Saya: cenayang warna-warni. Asik.
Saya ingin mimpi saya jadi nyata. Bantal hijau itu juga. Kamu juga.
Perlukah bola kristal? Atau tongkat sihir?
Alakazaaaaam...
Ataukah untuk mimpi itu saya cuma perlu keberanian?
Keberanian untuk menyapa "hai" saat kamu ada?
Gampang ya?
Tidak tidak itu susah.
Susah. Lagi lagi sah sah sah.
Tali saya tipis sekali, anginnya meletup-letup dari pohon mimpi.
Kau tidak bisa memecahkan telur dengan menggenggamnya erat-erat.
Dan saya juga tidak bisa mempertahankan tali saya supaya tetap terikat.
Lepas dan terhempas: terbangun.
Bolehkah saya tidur lagi?
Bolehkah mimpi saya ada sekuelnya?
Boleh dong, tolong.
Rabu, 08 September 2010
Time Bomb
Rabu, 08 September 2010
(dua hari sebelum Idul Fitri 1431 H)
Waktu, bagi saya seakan berlari.
Padahal saya nggak ngejar-ngejar.
Satpam juga nggak ngejar.
Lebih sering satpam ngejar maling.
Bagi saya, waktu kali ini larinya lebih cepat daripada pelari maraton nasional.
Saya harus susah payah mengejarnya.
Bahkan seringkali saya yang dikejar-kejar waktu, sampai saya terbirit-birit lari darinya.
Lihat saja saat saya harus mengumpulkan tugas esai yang belum selesai, waktu seakan lintasan kabur yang menit-menitnya hilang secara misterius.
Ini emang namanya prokrastinasi. Salah satu hobi saya.
Saya takut suatu saat nanti di lintasan ini waktu berlari cepat mendahului saya dan kemudian berhenti di ujung depan saya.
Karena ini orbit saya juga, mau tak mau saya harus ikut berhenti di tempat waktu saya berhenti.
Padahal baju saya masih rombeng.
Lingkaran halo di kepala saya belum terbentuk.
Saku hati saya kosong.
Koper bawaan saya masih enteng.
Sampah di ransel saya masih belum terbuang seluruhnya.
Apa yang akan saya persembahkan nanti di pintu ujung sana?
Saya takut. Sungguh.
Mohon maaf lahir batin.
Malam-malam Hujan Sore

Hujan.
Kemarin, kemarin lusa, dan hari ini hujan. Langit seperti menangis saking banyaknya air yang tumpah.
Dan dua hujan terakhirku cantik sekali.
Karena ada kau bersamaku menunggu terang.
Yah, sebenernya kalimat pembuka di atas agaklah lebay melambai.
Saya yakin kalimat itu nggak ada artinya apapun buat anda. Tapi buat saya dan para alter ego saya, itu berarti sangat banyak. Biarlah saja, ini dikarenakan disorientasi karena saya lama nggak nulis. Harap maklum kawan.
Saya suka hujan. Saya tidak suka hujan.
Saya plin plan. Ya.
Saya suka hujan karena bau tanah yang tersiram hujan mengingatkan saya pada rumah, buku yang baru dibuka, dan selimut hangat.
Saya suka hujan karena kita bisa menangis di bawah hujan. Tidak ada orang yang mau repot-repot membedakan apakah itu air mata atau air hujan. Toh sama saja basah.
Saya suka hujan karena bisa dijadikan alasan untuk tidak datang ke janji yang menyebalkan (kalau ada).
Saya suka hujan karena hujan membuat saya sah-sah saja untuk lebih lama tiduran di kasur dan minum susu hangat.
Saya suka hujan karena waktu hujan itu kita menunggu di halte yang sama, meskipun lidah saya kelu karena tak sanggup bicara kedinginan.
Saya suka hujan karena berharap setelahnya ada pelangi dan saya bisa kebagian duit dari guci harta karun yang disembunyikan kurcaci.
Kadang kalau lagi labil saya suka menjulurkan tangan saya keluar jendela. Menadah hujan. Berharap dengan seperti itu saya bisa ikut meleleh ke tanah bersama hujan.
Sayangnya akhir-akhir ini saya sering sekali kambuh labilnya. Sayangnya juga di kostan saya nggak ada jendela buat main leleh-lelehan kayak gitu.
Dan di rumah saya nggak bakal sempet mainan hujan karena terlalu sibuk menjadi Ijah Pelayan Seksi.
Kasian ya?
Iya memang, begitulah nasib.
Sore ini juga hujan. Tapi tidak cantik.
Langitnya terlalu cengeng hari ini. Terlalu banyak air yang tumpah.
Hujan merah, hujan hijau, dan hari ini (mungkin) hujan jingga.
Apa itu?
Cuma saya, Tuhan, dan hujan yang tahu.
Sesorean saya sibuk menghirup-hirup bau hujan. Bernapas pelan dan dalam sambil tiduran.
Berharap ada aroma dua hari lalu.
Tapi tidak.
Karena hujannya terlalu lama, yang tercium malah aroma sampah yang terbawa air hujan.
Sungguh tidak sama.
Oh iya, saya juga tidak suka hujan.
Kalau saya adalah Sybil yang punya 16 kepribadian, mungkin kesukaan dan ketidaksukaan saya terhadap hujan akan sama rata bagiannya.
Jadi 8 kepribadian mencintai hujan. Dan 8 kepribadian lainnya membenci hujan.
Tapi saya bukan Sybil.
Saya cuma satu orang, yang kadang suka dan kadang tidak terhadap hujan.
Saya tidak suka hujan kalau dia datang sepulang saya kuliah, membuat sepatu, baju, dan barang bawaan saya basah.
Saya tidak suka hujan ketika hujan membuat janji yang sudah saya nanti-nantikan jadi batal.
Saya tidak suka hujan yang bikin banjir. Sama sekali tidak romantis.
Saya tidak suka hujan kalau disertai suara gluduk-gluduk yang membuat saya harus menutup jendela, mematikan tivi dan laptop karena takut kesamber petir..
Saya tidak suka hujan karena hujan waktu itu membuat kamu pulang duluan sebelum hujannya makin lebat.
Meskipun perasaan saya nggak menentu terhadap hujan, bagi saya hujan adalah nyanyian pengantar tidur yang indah.
Lullaby.
Ssstt....
Kamis, 26 Agustus 2010
Jadwal Kuliah Semester 5
Kamis, 26 Agustus 2010
Jadwal di atas adalah jadwal kuliah saya semester 5.
Haha, pentingkah buat kalian baca?
Jika tidak, sudahlah..tutup saja jendela ini.
Saya berharap semoga semester depan nilai saya jauh jauh jauh jauh jauh lebih baik daripada semester lalu (jauhnya lima kali).
Semester lalu kuliah saya kacau banget.
IP saya anjlok sebesar 0,3.
Saya siyok, meskipun sudah menyangka akan terjadi hal itu karena sepanjang semester empat saya malesnya minta ampun.
Saya mau jadi mahasiswa baik-baik semester depan.
Mau belajar yang rajin. Mengerjakan tugas tepat waktu. Tidak prokras. Tidak malas. Tidak merokok. Tidak bergaul bebas. Tidak mabok-mabokan. Tidak nyetir sambil ngantuk. Tidak melanggar lampu merah. Tidak mencuri. Tidak membunuh. Tidak gentayangan.
(Halah, ini mahasiswa apa mantan narapidana ya?)
Untuk semester ini saya dapet 20 sks.
Padahal tempo hari saya nyaris cuma dapet 16 sks. Saya hampir aja ngelamar jadi pembantu di arab buat ngisi waktu saya yang luang banget. Tapi untungnya nggak jadi. Saya belum siap berbicara sama unta setiap hari. Juga belum siap disuruh tari perut sama majikan. Haha.
Doakan saya ya bisa oke oke saja di semester depan. Amin amin!
Pesan dari Mister-Ius: akhir-akhir ini saya sedang tidak aktif untuk mecurahkan isi hati di sini. Bagi yang kangen, panggil nama saya tiga kali di depan cermin, putar badan tujuh kali, jongkok lima detik, kemudian berdiri dan lompat-lompat. Kita ketemu di mimpi.
- Berpikir Kritis dan Psikologi :Jumat, 19.00-21.00-H. 107
- Metode Assessment Centre: Senin, 10.00-11.40 - C. 308
- Metode Observasi dan Wawancara: Rabu, 08.00-10.30 & Jumat, 09.00-11.30 - H. 308 & H. 107
- Psikologi Abnormal: Senin, 08.00-09.40 - H. 104
- Psikologi Klinis dan Kesehatan: Rabu, 13.00-15.30 - H. 308
- Psikologi Konsumen: Kamis, 14.00-16.30 - H.216
- Psikologi SDM: Selasa, 13.00-15.30 - H. 104
- Psikometri: Selasa, 08.00-11.20 - H. 103
Bismillah..
Jadwal di atas adalah jadwal kuliah saya semester 5.
Haha, pentingkah buat kalian baca?
Jika tidak, sudahlah..tutup saja jendela ini.
Saya berharap semoga semester depan nilai saya jauh jauh jauh jauh jauh lebih baik daripada semester lalu (jauhnya lima kali).
Semester lalu kuliah saya kacau banget.
IP saya anjlok sebesar 0,3.
Saya siyok, meskipun sudah menyangka akan terjadi hal itu karena sepanjang semester empat saya malesnya minta ampun.
Saya mau jadi mahasiswa baik-baik semester depan.
Mau belajar yang rajin. Mengerjakan tugas tepat waktu. Tidak prokras. Tidak malas. Tidak merokok. Tidak bergaul bebas. Tidak mabok-mabokan. Tidak nyetir sambil ngantuk. Tidak melanggar lampu merah. Tidak mencuri. Tidak membunuh. Tidak gentayangan.
(Halah, ini mahasiswa apa mantan narapidana ya?)
Untuk semester ini saya dapet 20 sks.
Padahal tempo hari saya nyaris cuma dapet 16 sks. Saya hampir aja ngelamar jadi pembantu di arab buat ngisi waktu saya yang luang banget. Tapi untungnya nggak jadi. Saya belum siap berbicara sama unta setiap hari. Juga belum siap disuruh tari perut sama majikan. Haha.
Doakan saya ya bisa oke oke saja di semester depan. Amin amin!
Pesan dari Mister-Ius: akhir-akhir ini saya sedang tidak aktif untuk mecurahkan isi hati di sini. Bagi yang kangen, panggil nama saya tiga kali di depan cermin, putar badan tujuh kali, jongkok lima detik, kemudian berdiri dan lompat-lompat. Kita ketemu di mimpi.
Jumat, 20 Agustus 2010
Mimpi
Jumat, 20 Agustus 2010
Kemarin malam Jumat, sekarang malam Sabtu.
Kalau dunia masih berlanjut, besok malam Minggu.
Kalau tidak, saya tidak tahulah.
Kemarin malam Jumat, sekarang malam Sabtu.
Kalau dunia masih berlanjut, besok malam Minggu.
Kalau tidak, saya tidak tahulah.
Tanyalah pada Pemilik Hari.
Malam Jumat biasanya ada Masih Dunia Lain.
Kenapa deh saya ini suka banget ngomongin Masih Dunia Lain. Padahal saya enggak dibayar buat promosi loh.
Coba kalo dibayar. Asik banget.
Tapi kemarin nggak ada.
Dunia Lain-nya, bukan bayarannya.
Mungkin karena bulan puasa. Kata ibu saya kalau bulan puasa, setan-setannya pada dipenjara. Jadi nggak bisa ikutan akting di tivi.
Kemarin gantinya jadi Gara-gara Magic.
Ada Demian. Demian yang ganteng itu. Demian sang Illusionis.
Demian ganteng, tapi sayang udah punya istri.
Kalo belum, mungkin dia ganti nama jadi Demian sang Resepsionis.
Saya sedang iri. Iri hati sekali sampai mau menangis.
Saya iri sama awan.
Awan bisa lari-larian kemana-mana. Ke atas rumah, ke balik gunung, bahkan sampai keluar negeri. Tanpa pasport, tanpa visa.
Nggak perlu nunggu kereta atau bis.
Nggak perlu takut kehabisan tiket mudik.
Nggak perlu khawatir bakal dicolak-colek di busway atau krl.
Eh kamu tau sekarang ada gerbong khusus wanita di kereta ekonomi ac di jakarta?
Sudah?
Ya udah, saya kira belum tau.
Saya iri sama lilin.
Lilin setelah abis dipake bisa didaur ulang nggak sih?
Biasanya lilin bekas pakai langsung saya buang.
Jahat ya?
Padahal lilinnya udah baik banget nemenin saya kalau mati lampu.
Sampai meleleh habis.
Tapi dia nggak pernah marah.
Saya iri juga sama mimpi.
Kadang mimpi saya bagus banget sampai rasanya sedih karena kebangun.
Saya pernah mimpi berdiri di depan gedung Universitas Leiden di Belanda.
Rasanya luar biasa. Sampai sujud syukur.
i wish i can be there :)
Terus tiba-tiba bangun, padahal saya belum sempet masuk ke dalamnya.
Semoga Alloh melanjutkan mimpi saya di dunia nyata.
Amin!
Ya ampun, ini benar-benar nggak jelas. Maaf ya..
Tolong itu ikut diamini saja doa saya yang ditulis dengan tinta biru.
Rabu, 18 Agustus 2010
Sepulangnya Malam Ini

Rabu, 18 Agustus 2010
Berbicara itu menyenangkan.
Apalagi jika kamu berbicara kepada orang yang tepat.
Yang bisa mengerti apa yang kamu omongkan tanpa harus mikir.
Menulis itu juga menyenangkan.
Melihat kata demi kata yang muncul di layar sementara jari kamu berketak-ketuk di atas keyboard.
Saya bukannya tukang bicara ataupun tukang menulis.
Saya cuma suka berbicara dan menulis.
Saya suka menulis dan berbicara malam-malam karena malam itu tenang dan ada bulan.
Saya suka menulis dan berbicara pagi-pagi karena pagi hari udaranya sejuk dan saya masih bisa main-main sama selimut saya.
Saya suka menulis dan berbicara siang-siang karena siang adalah waktunya beraktivitas dan bersemangat hore-hore.
Saya suka menulis dan berbicara sore-sore karena waktu sore adalah waktu yang santai, saat semua orang sudah pulang, mandi, dan duduk manis nonton tivi.
Jadi intinya, semua waktu itu indah enggak ada alasan untuk tidak melakukan sesuatu.
Apalagi jika kamu berbicara kepada orang yang tepat.
Yang bisa mengerti apa yang kamu omongkan tanpa harus mikir.
Menulis itu juga menyenangkan.
Melihat kata demi kata yang muncul di layar sementara jari kamu berketak-ketuk di atas keyboard.
Saya bukannya tukang bicara ataupun tukang menulis.
Saya cuma suka berbicara dan menulis.
Saya suka menulis dan berbicara malam-malam karena malam itu tenang dan ada bulan.
Saya suka menulis dan berbicara pagi-pagi karena pagi hari udaranya sejuk dan saya masih bisa main-main sama selimut saya.
Saya suka menulis dan berbicara siang-siang karena siang adalah waktunya beraktivitas dan bersemangat hore-hore.
Saya suka menulis dan berbicara sore-sore karena waktu sore adalah waktu yang santai, saat semua orang sudah pulang, mandi, dan duduk manis nonton tivi.
Jadi intinya, semua waktu itu indah enggak ada alasan untuk tidak melakukan sesuatu.
Saya suka bercerita. Banyak bahan cerita yang bisa saya sampaikan.
Apalagi kalau saya mulai bercerita tentang dia, kamu, dan mereka.
Saya bukanlah story-teller.
Cerita Keong Mas pun saya tak hafal urutan ceritanya. Saya cuma hapal lagu Keong Racun.
Tapi itu bukanlah sebuah cerita.
Saya cuma orang yang suka ngelamun dan berbisik-bisik ke notes saya.
Bercerita (lagi) tentang dia, kamu,dan mereka.
Saya ingin berterimakasih kepada orang yang mau mendengarkan saya.
Dia, kamu, dan mereka: terima kasih ya...
Salam kecup dan cinta seluas samudra.
Selasa, 17 Agustus 2010
Postingan Tujuhbelasan

Hallo, my name is Azizah. I'm Indonesian and I'm not a terrorist.
Sekarang Indonesia ulang tahun ke 65.
Sudah tua meskipun lebih tua eyang saya.
Jadi saya ucapkan:
Selamat ulang tahun Indonesia. Semoga kau bisa membuat kami makin mencintaimu. Wish you all the best!
Saya lahir di Indonesia.
Saya orang Indonesia tulen, nggak ada unsur-unsur bulenya sama sekali meskipun banyak yang bilang Bapak saya kayak orang Arab.
Sejak kecil saya ngomong pake bahasa Indonesia. Bahasa Jawa juga.
Kalau ngomong bahasa Inggris saya gagap sendiri. Keliatan kan betapa saya cinta bahasa Indonesia.
Saya tau Indonesia pernah dijajah Belanda dan Jepang.
Tapi saya tetep pengen sekolah di Belanda.
Biar pinter trus jadi orang kaya.
(Benar-benar cita-cita anak kecil :P)
Meskipun termasuk dalam golongan orang yang belum bisa menikmati kekayaan Indonesia, saya mencintai Indonesia apa adanya.
Negara mana lagi sih yang punya ribuan pulau selain Indonesia?
Jutaan spesies flora fauna yang nggak ada di tempat lain?
Cuma di sini, Indonesia.
Mungkin klise banget saya ngomong kayak gitu.
Sementara di sekitar saya tinggal masih banyak sekali orang yang enggak bangga dengan produk sendiri.
Masih malu pake batik misalnya.
Atau nganggep lagu keroncong dan campursari itu cupu.
Atau milih liburan ke luar negeri sementara tempat wisata di negeri sendiri masih belum dikunjungi.
Yah di antara orang-orang itu, ada saya.
Nggak munafik dong.
Saya nggak sebegitu cintanya sama Indonesia sampai menutup diri dari budaya luar.
Saya masih nonton X-men, Harry Potter, baca novel terjemahan, dll.
Saya nggak kemana-mana pake batik, rambut disanggul, dan nari di jalan.
Tidak, tidak seekstrim itu.
Selama 65 tahun ini, rakyat Indonesia selalu mendoakan negerinya untuk jadi lebih baik di tahun berikutnya.
Tapi sayangnya, dari tahun ke tahun doanya sama terus.
Itu berarti belum ada yang terwujud.
Jadi sedih..
Padahal menurut saya, untuk bisa mewujudkan Indonesia yang sesuai harapan, cukup satu tindakan kecil: cintailah Indonesia dengan tulus.
Cintai budayanya, maka kita pasti bersedia melestarikan.
Cintai alamnya, maka kita pasti akan bangga.
Cintai orangnya, maka kita nggak akan naksir sama bule-bule di tivi.
Saya sering main di omegle.com, iseng-iseng chatting buat ngisi waktu.
Tiap ditanya dari mana, saya selalu ngaku dengan jujur kalo saya dari Indonesia.
Dan tahukah anda,
hampir 70% orang yang chatting dengan saya langsung memutuskan hubungan.
Saya dicampakkan sodara-sodara.
Betapa sakit dan pedihnya hati ini rasanya.
Selain itu, ada yang bilang bahwa dia nggak tau Indonesia.
Dengan senang hati saya menjelaskan, promosi sampai berbusa.
Senang rasanya bisa memperkenalkan Indonesia meskipun lewat cara yang agak nggak penting gitu..
Yang lain, yang nggak memutuskan hubungan ataupun tanya-tanya tentang Indonesia agak-agak parah.
Mereka mencaci maki, bikin saya keki dan sedih.
Misalnya gini:
- Indonesia? Poor you..
- Are you starving?
- What the hell of Indonesia?!
- dll
Plis deh, Indonesia kan nggak gitu-gitu amat.
Yah meskipun di sana-sini masih banyak anak yang busung lapar dan putus sekolah karena kekurangan biaya, tapi itukah yang mereka lihat dari kita?
Kalo iya, betapa malangnya..
Saya, sebagai orang Indonesia, alhamdulillah hidup berkecukupan. Makan tiga kali sehari dan tidak kelaparan.
Sebagaimana anak Indonesia yang punya cita-cita tinggi, saya ingin suatu saat nanti bisa membantu Indonesia.
Mungkin saya nggak pinter politik, nggak bisa bikin penemuan baru, nggak secerdas Habibie.
Makanya saya nanti mau jadi orang kaya aja.
Kaya ilmu, kaya harta, kaya akhlak.
Biar bisa berbagi.
Amin.
Oya, tadi pas jalan-jalan di fesbuk, saya nemu link ini di profil temen: Negara Terkaya di Dunia.
Isinya bikin miris. Sedih.
Ini saya kutipkan puisi yang ada di dalamnya:
Judulnya Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia
Suatu hari Tuhan tersenyum puas melihat sebuah planet yang baru saja diciptakan- Nya. Malaikat pun bertanya, "Apa yang baru saja Engkau ciptakan, Tuhan?" "Lihatlah, Aku baru saja menciptakan sebuah planet biru yang bernama Bumi," kata Tuhan sambil menambahkan beberapa awan di atas daerah hutan hujan Amazon. Tuhan melanjutkan, "Ini akan menjadi planet yang luar biasa dari yang pernah Aku ciptakan. Di planet baru ini, segalanya akan terjadi secara seimbang".
Lalu Tuhan menjelaskan kepada malaikat tentang Benua Eropa. Di Eropa sebelah utara, Tuhan menciptakan tanah yang penuh peluang dan menyenangkan seperti Inggris, Skotlandia dan Perancis. Tetapi di daerah itu, Tuhan juga menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang.
Di Eropa bagian selatan, Tuhan menciptakan masyarakat yang agak miskin, seperti Spanyol dan Portugal, tetapi banyak sinar matahari dan hangat serta pemandangan eksotis di Selat Gibraltar.
Lalu malaikat menunjuk sebuah kepulauan sambil berseru, "Lalu daerah apakah itu Tuhan?" "O, itu," kata Tuhan, "itu Indonesia. Negara yang sangat kaya dan sangat cantik di planet bumi. Ada jutaan flora dan fauna yang telah Aku ciptakan di sana. Ada jutaan ikan segar di laut yang siap panen. Banyak sinar matahari dan hujan. Penduduknya Ku ciptakan ramah tamah,suka menolong dan berkebudayaan yang beraneka warna. Mereka pekerja keras, siap hidup sederhana dan bersahaja serta mencintai seni."
Dengan terheran-heran, malaikat pun protes, "Lho, katanya tadi setiap negara akan diciptakan dengan keseimbangan. Kok Indonesia baik-baik semua. Lalu dimana letak keseimbangannya? "
Tuhan pun menjawab dalam bahasa Inggris, "Wait, until you see the idiots I put in the government." (tunggu sampai Saya menaruh 'idiot2' di pemerintahannya)
Kamis, 12 Agustus 2010
Pago Pago
Saya nggak tau siapa yang mengubah settingan waktu blog saya sehingga jadi tercatat sekarang tanggal 11 Agustus dan saya tinggal di Pago Pago.
Mungkin karena saking canggihnya saya, saya jadi bisa meloncat ke masa lalu dan sekaligus pindah tempat.
Ngomong-ngomong, saya nggak tau Pago Pago itu dimana. Bahkan saya baru dengar ada tempat yang namanya Pago Pago.
Sungguh aneh namanya.
Saya jadi mikir kalo ada negara yang namanya Choki Choki. Pasti saya akan betah tinggal di sana karena banyak pasta coklat gratisan. Tapi apakah nanti kotoran ayam juga berupa pasta coklat?
Oh tidak, mending saya pikir-pikir lagi.
Karena saya penasaran tentang Pago Pago, maka saya bertanya kepada mbah Google.
Mbah Google ini pintar, tanyakan apa saja dan dia bakal jawab.
Saya mau kalo udah embah-embah nanti bisa sepintar mbah Google. Tentunya nanti saya nggak bakalan kalah gaul sama cucu saya.
Begini jawaban mbah Google:
Pago Pago adalah ibu kota Samoa Amerika. Ada bandara internasional dan pelabuhan terbesar di seluruh pulau Tutuila. Saat ini ada lebih dari 3600 orang.
Di kota ini ada sejumlah tempat-tempat wisata, seperti Huvalu Hutan km 543, Hio Pantai km 531, Limu km 530, Matapa km 528, Talava Arch km 528, Niue Golf dan Olahraga Klub km t540, Salamumu Pantai km 135, Fakaofo Village km 549.
Apa maksudnya itu?
Saya juga tidak tau.
Bahkan mbah Google-pun tidak dapat memberikan jawaban yang jelas.
Saya jadi tambah bingung.
Selain itu, saya juga nemu video tentang Pago Pago. Judulnya Neoton Pago Pago.
Bisa dilihat di sini.
Video itu isinya orang Pago Pago yang nyanyi-nyanyi dan joget-joget.
Memang awalnya agak horor, ada cewek rambut pirang yang di-syut kepala bagian belakangnya, terus kemudian dia berbalik dan nyanyi: aaaa..aaaa...pagoooo pagoooo.
Lalu dia dan teman-temannya bergoyang-goyang.
Saya enggak mudeng sebenernya. Tapi ya kira-kira begitulah: nyanyi-nyanyi dan joget-joget.
Bahasa Pago Pago seperti ini:
Kellett egy ilyen is akkoriban. Én még nem hánytam a pago pagótól, sőt, hányingerem sem volt. Így jó, nem vagyunk egyformák. Köszi a hozzászólást!
Artinya:
Kellet ingin makan telur asin tapi dia alergi sama kulit telur.
Jadilah dia terpaksa pergi ke pulau Pago Pagotol karena di sana ada dukun beranak berijazah yang suka warna ijo dan punya ramuan hozzászólást!.
(Saya ngarang, tolong jangan dipercaya.)
Setelah tau hal itu semua, saya jadi bersyukur bahwa saya tidak benar-benar tinggal di Pago Pago.
Saya nggak bisa bahasa Pago Pago.
Bagaimana saya bisa bertahan hidup kalau ngomong aja nggak bener.
Masa iya saya harus pake bahasa tarzan tiap mau ngomong sama orang lain?
Sungguh tidak keren.
Tetapi di balik semua itu, Pago Pago adalah tempat wisata yang oke.
Ini foto-foto yang saya ambil dari si embah:

bagus ya?

Nah, ini foto penduduk asli Pago pago:

Sungguh mirip sama orang Papua --"
Entah kenapa settingan blog saya berubah sendiri, saya belum tau.
Mungkin ini adalah pertanda bahwa suatu hari nanti saya bakalan berkunjung ke Pago Pago.
Semoga di sana makanannya enak-enak dan penduduknya bukan kanibal.
Mungkin karena saking canggihnya saya, saya jadi bisa meloncat ke masa lalu dan sekaligus pindah tempat.
Ngomong-ngomong, saya nggak tau Pago Pago itu dimana. Bahkan saya baru dengar ada tempat yang namanya Pago Pago.
Sungguh aneh namanya.
Saya jadi mikir kalo ada negara yang namanya Choki Choki. Pasti saya akan betah tinggal di sana karena banyak pasta coklat gratisan. Tapi apakah nanti kotoran ayam juga berupa pasta coklat?
Oh tidak, mending saya pikir-pikir lagi.
Karena saya penasaran tentang Pago Pago, maka saya bertanya kepada mbah Google.
Mbah Google ini pintar, tanyakan apa saja dan dia bakal jawab.
Saya mau kalo udah embah-embah nanti bisa sepintar mbah Google. Tentunya nanti saya nggak bakalan kalah gaul sama cucu saya.
Begini jawaban mbah Google:
Pago Pago adalah ibu kota Samoa Amerika. Ada bandara internasional dan pelabuhan terbesar di seluruh pulau Tutuila. Saat ini ada lebih dari 3600 orang.
Di kota ini ada sejumlah tempat-tempat wisata, seperti Huvalu Hutan km 543, Hio Pantai km 531, Limu km 530, Matapa km 528, Talava Arch km 528, Niue Golf dan Olahraga Klub km t540, Salamumu Pantai km 135, Fakaofo Village km 549.
Apa maksudnya itu?
Saya juga tidak tau.
Bahkan mbah Google-pun tidak dapat memberikan jawaban yang jelas.
Saya jadi tambah bingung.
Selain itu, saya juga nemu video tentang Pago Pago. Judulnya Neoton Pago Pago.
Bisa dilihat di sini.
Video itu isinya orang Pago Pago yang nyanyi-nyanyi dan joget-joget.
Memang awalnya agak horor, ada cewek rambut pirang yang di-syut kepala bagian belakangnya, terus kemudian dia berbalik dan nyanyi: aaaa..aaaa...pagoooo pagoooo.
Lalu dia dan teman-temannya bergoyang-goyang.
Saya enggak mudeng sebenernya. Tapi ya kira-kira begitulah: nyanyi-nyanyi dan joget-joget.
Bahasa Pago Pago seperti ini:
Kellett egy ilyen is akkoriban. Én még nem hánytam a pago pagótól, sőt, hányingerem sem volt. Így jó, nem vagyunk egyformák. Köszi a hozzászólást!
Artinya:
Kellet ingin makan telur asin tapi dia alergi sama kulit telur.
Jadilah dia terpaksa pergi ke pulau Pago Pagotol karena di sana ada dukun beranak berijazah yang suka warna ijo dan punya ramuan hozzászólást!.
(Saya ngarang, tolong jangan dipercaya.)
Setelah tau hal itu semua, saya jadi bersyukur bahwa saya tidak benar-benar tinggal di Pago Pago.
Saya nggak bisa bahasa Pago Pago.
Bagaimana saya bisa bertahan hidup kalau ngomong aja nggak bener.
Masa iya saya harus pake bahasa tarzan tiap mau ngomong sama orang lain?
Sungguh tidak keren.
Tetapi di balik semua itu, Pago Pago adalah tempat wisata yang oke.
Ini foto-foto yang saya ambil dari si embah:

bagus ya?

Nah, ini foto penduduk asli Pago pago:

Sungguh mirip sama orang Papua --"
Entah kenapa settingan blog saya berubah sendiri, saya belum tau.
Mungkin ini adalah pertanda bahwa suatu hari nanti saya bakalan berkunjung ke Pago Pago.
Semoga di sana makanannya enak-enak dan penduduknya bukan kanibal.
Fenomena
Berhubung di masa ini hampir semua orang udah punya ponsel dan punya akun di jejaring sosial, maka kayaknya komunikasi lebih sering lewat bahasa tulis. Elektrik tentunya.
Sekarang udah nggak jamannya lagi kirim-kiriman berita lewat surat.
Lama soalnya.
Kalo dipikir-pikir, kasian juga pak pos dan segenap staff keluarganya.
Udah jarang banget orang yang pake jasa pos.
Saya salut sama perusahaan yang masih pake jasa Pos Indonesia.
Misalnya telkomsel. Tiap bulan bapak saya selalu dikirimi tagihan kartu Halo-nya lewat pos.
Jadi seenggaknya ada satu surat yang dateng ke rumah tiap bulan.
Padahal dulu jaman SD saya masih main surat-suratan sama sahabat pena saya.
Namanya Nastiti, Ikajati, dan Intan.
Kami surat-suratan dengan polosnya.
Nanyain kabar dan tukar-tukaran foto.
Saya selalu seneng tiap ada pak pos datang dan manggil-manggil: Azizah, azizah.
Oh, serasa dapet wesel dari pak lurah.
Sebenernya saya enggak mau ngomongin tentang pak pos. Karena saya tidak tahu menahu tentang kehidupan pak pos yang sebenarnya.
Bisa jadi mereka udah punya bisnis rahasia sendiri dan sekarang lebih kaya raya daripada pas jadi tukang pos.
Saya mau ngomongin tentang bahasa tulis yang sering kita pakai.
Kita mulai saja. Cekidot:
1. Kategori Alay
Saya nggak akan bahas apa definisinya karena bosen. Dan pastinya hampir semua orang udah pada tau.
Menurut saya alay adalah salah satu jenis kejahatan. Dan saya berharap itu segera dibasmi dari muka bumi.
Saya heran bagaimana bisa orang nulis dengan huruf gede kecil campur angka. Salut juga sih sama kegigihan mereka mengkombinasikan angka dan huruf sambil jarinya pencet-pencet shift berkali-kali.
Pasti mereka udah profesional banget jadi tukang ketik kelurahan.
Nggak kayak saya yang sampai saat ini masih saja ngetik pake jari telunjuk aja.
Benar-benar amatir.
2. Kategori Lebay
Ini juga kejahatan.
Tapi setingkat lebih rendah daripada alay.
Sementara alay bisa menyebabkan kejang-kejang berlebihan dan mulut keluar busa, kejahatan kategori ini hanya menyebabkan mata kita muter-muter karena kebanyakan baca apdetan orang yang bersangkutan.
3. Haha, hihi, dan hehe
Dulu ada temen kuliah saya yang sudah pernah bahas tentang penggunaan kata "haha, hihi, dan hehe" ini.
Saya bahas lagi di sini, seinget saya aja (seperti yang telah kita ketahui, saya punya penyakit lupangitis meningitis).
Banyak orang yang tiap komen di status orang pasti menyertakan kata ini di belakangnya.
Mungkin maksudnya untuk memperhalus kalimat yang tadi ditulis.
Coba rasakan bedanya:
1. Hei, kamu bau deh! Dasar tukang kentut!
2. Hei, kamu bau deh! Dasar tukang kentut! Hahahaha...
Di kalimat nomor satu, kesannya nuduh banget bahwa orang itu tukang kentut.
Nggak ada orang yang mau dikatain tukang kentut. Pasti dia bakalan sakit hati dan mungkin nanti bisa bunuh diri. Ini terlalu beresiko. Menyangkut hidup matinya seseorang, kan?
Nah dikalimat nomor dua, bisa diliat itu cuma bercandaan.
Soalnya ada hahaha-nya.
Jadi orang yang dikomenin juga bakal ikut "hahaha" di dalam hati.
Marahnya ilang, nggak jadi bunuh diri deh. Hore!
Dari sedikit bahasan di atas, jelaslah sudah bahwa kata haha, hihi dan hehe sangatlah penting dalam bahasa tulis.
Sekarang malah nggak cuma tiga itu saja.
Ada banyak variasi yang diciptakan. Rasa keju, pedes manis, jagung, jagung pedes, balado, dan sebagainya.
Oh bukan, itu lanting.
Variasi ketawa misalnya: hohohoho, hwahahaha, wkwkkwkw, gagagaggaga, kikikikikik.
Yang terakhir itu ketawanya mbak kunti yang punggungnya bolong. Jangan dipakai sembarangan.
4. Emoticon
Fungsinya untuk meperjelas maksud kalimat kita.
Jaman sekarang nggak gaul kalo nggak pake emoticon. Kesannya hampa dan hambar. Seperti sayur tanpa garam.
Di sini saya kasih contoh lagi:
1. Ya ampun bajunya lucu banget.
2. Ya ampun bajunya lucu banget >.<...
Kalimat pertama terkesan sangat datar. Tanpa ekspresi.
Bayangkan kamu lagi ngomong sama seseorang yang nggak punya ekspresi.
Rasanya pengen ngeludahin.
Makanya dipakai emoticon kayak di kalimat kedua, yang kalo nggak salah artinya oh-so-cute atau gemes banget.
Contoh emoticon yang sering dipakai dan artinya:
:) senyum
:D ketawa
:( sedih
:'( sedihnya pake nangis
:') terharu
:P melet-melet
;) flirting
:* kiss
:@ ngambek
:9 yummy
--", -____-, -_-" cape deh
^.^ senang
T.T nangis
aduh masih banyak deh, pusing.
Sekarang udah nggak jamannya lagi kirim-kiriman berita lewat surat.
Lama soalnya.
Kalo dipikir-pikir, kasian juga pak pos dan segenap staff keluarganya.
Udah jarang banget orang yang pake jasa pos.
Saya salut sama perusahaan yang masih pake jasa Pos Indonesia.
Misalnya telkomsel. Tiap bulan bapak saya selalu dikirimi tagihan kartu Halo-nya lewat pos.
Jadi seenggaknya ada satu surat yang dateng ke rumah tiap bulan.
Padahal dulu jaman SD saya masih main surat-suratan sama sahabat pena saya.
Namanya Nastiti, Ikajati, dan Intan.
Kami surat-suratan dengan polosnya.
Nanyain kabar dan tukar-tukaran foto.
Saya selalu seneng tiap ada pak pos datang dan manggil-manggil: Azizah, azizah.
Oh, serasa dapet wesel dari pak lurah.
Sebenernya saya enggak mau ngomongin tentang pak pos. Karena saya tidak tahu menahu tentang kehidupan pak pos yang sebenarnya.
Bisa jadi mereka udah punya bisnis rahasia sendiri dan sekarang lebih kaya raya daripada pas jadi tukang pos.
Saya mau ngomongin tentang bahasa tulis yang sering kita pakai.
Kita mulai saja. Cekidot:
1. Kategori Alay
Saya nggak akan bahas apa definisinya karena bosen. Dan pastinya hampir semua orang udah pada tau.
Menurut saya alay adalah salah satu jenis kejahatan. Dan saya berharap itu segera dibasmi dari muka bumi.
Saya heran bagaimana bisa orang nulis dengan huruf gede kecil campur angka. Salut juga sih sama kegigihan mereka mengkombinasikan angka dan huruf sambil jarinya pencet-pencet shift berkali-kali.
Pasti mereka udah profesional banget jadi tukang ketik kelurahan.
Nggak kayak saya yang sampai saat ini masih saja ngetik pake jari telunjuk aja.
Benar-benar amatir.
2. Kategori Lebay
Ini juga kejahatan.
Tapi setingkat lebih rendah daripada alay.
Sementara alay bisa menyebabkan kejang-kejang berlebihan dan mulut keluar busa, kejahatan kategori ini hanya menyebabkan mata kita muter-muter karena kebanyakan baca apdetan orang yang bersangkutan.
3. Haha, hihi, dan hehe
Dulu ada temen kuliah saya yang sudah pernah bahas tentang penggunaan kata "haha, hihi, dan hehe" ini.
Saya bahas lagi di sini, seinget saya aja (seperti yang telah kita ketahui, saya punya penyakit lupangitis meningitis).
Banyak orang yang tiap komen di status orang pasti menyertakan kata ini di belakangnya.
Mungkin maksudnya untuk memperhalus kalimat yang tadi ditulis.
Coba rasakan bedanya:
1. Hei, kamu bau deh! Dasar tukang kentut!
2. Hei, kamu bau deh! Dasar tukang kentut! Hahahaha...
Di kalimat nomor satu, kesannya nuduh banget bahwa orang itu tukang kentut.
Nggak ada orang yang mau dikatain tukang kentut. Pasti dia bakalan sakit hati dan mungkin nanti bisa bunuh diri. Ini terlalu beresiko. Menyangkut hidup matinya seseorang, kan?
Nah dikalimat nomor dua, bisa diliat itu cuma bercandaan.
Soalnya ada hahaha-nya.
Jadi orang yang dikomenin juga bakal ikut "hahaha" di dalam hati.
Marahnya ilang, nggak jadi bunuh diri deh. Hore!
Dari sedikit bahasan di atas, jelaslah sudah bahwa kata haha, hihi dan hehe sangatlah penting dalam bahasa tulis.
Sekarang malah nggak cuma tiga itu saja.
Ada banyak variasi yang diciptakan. Rasa keju, pedes manis, jagung, jagung pedes, balado, dan sebagainya.
Oh bukan, itu lanting.
Variasi ketawa misalnya: hohohoho, hwahahaha, wkwkkwkw, gagagaggaga, kikikikikik.
Yang terakhir itu ketawanya mbak kunti yang punggungnya bolong. Jangan dipakai sembarangan.
4. Emoticon
Fungsinya untuk meperjelas maksud kalimat kita.
Jaman sekarang nggak gaul kalo nggak pake emoticon. Kesannya hampa dan hambar. Seperti sayur tanpa garam.
Di sini saya kasih contoh lagi:
1. Ya ampun bajunya lucu banget.
2. Ya ampun bajunya lucu banget >.<...
Kalimat pertama terkesan sangat datar. Tanpa ekspresi.
Bayangkan kamu lagi ngomong sama seseorang yang nggak punya ekspresi.
Rasanya pengen ngeludahin.
Makanya dipakai emoticon kayak di kalimat kedua, yang kalo nggak salah artinya oh-so-cute atau gemes banget.
Contoh emoticon yang sering dipakai dan artinya:
:) senyum
:D ketawa
:( sedih
:'( sedihnya pake nangis
:') terharu
:P melet-melet
;) flirting
:* kiss
:@ ngambek
:9 yummy
--", -____-, -_-" cape deh
^.^ senang
T.T nangis
aduh masih banyak deh, pusing.
Langganan:
Postingan (Atom)

