Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Agustus 2012

COME BACK!!!

::clears throat::

ummm, tes? tes?
halo.  halo halo semuanya!

sebenarnya basi rasanya kalo semua orang yang baru kembali nulis lagi di blog lagi selalu mengawali pembicaraan tulisan dengan kalimat-kalimat semacam: "Aduh, udah lama nggak nulis.." dan lain-lain.
sebenarnya saya bingung juga mau mulai pakai apa selain pakai kalimat semacam itu.  jadi kita lewati saja sesi ini.

saya sedang dalam kondisi yang cukup baik, semoga saja seperti itu.
banyak yang udah terjadi selama setahun ini.  banyak banget sampai saya nggak akan sanggup kalau harus cerita semuanya.
tapi, peristiwa yang paling penting adalah......
SAYA LULUS!!
alhamdulillah status saya sekarang udah sarjana, meskipun saya nggak tahu harus bangga atau sedih dengan status baru itu.
sarjana berarti sudah berhasil menyelesaikan kuliah.
sarjana berarti sudah mandiri.
sarjana berarti harus segera mencari pekerjaan.
sarjana berarti sudah lepas dari tanggung jawab finansial orang tua.

semua hal punya dua sini, negatif dan positif, tergantung dari mana kita melihatnya.
saya sendiri belum bisa memutuskan mau melihat dari sisi mana.  atas mungkin?

Kamis, 28 April 2011

Surat Buat yang Hilang:

Halo, ini untukmu:
membuka mata dan menggapai-gapaimu seperti biasa, namun kamu tidak di sana
sebenarnya kamu tidak pernah di sana, cuma saya yang mengada-ada
tapi biasanya meskipun itu bohongan, kamu tetap ada, mengucap selamat pagi dengan senyum lebar tiga jari
lalu saya balas: selamat pagi, kamu mau kopi?
kamu bilang tidak, seperti biasa, kamu bilang mau es krim
saya bilang nanti, karena hari masih pagi
selanjutnya saya beranjak bersujud dan meminta-minta sebentar, biasanya ketika saya menoleh lagi kamu hilang
tapi kamu akan kembali saat saya sudah di depan cermin dan bilang selamat menjalani hari
tidak saya balas karena kamu cuma di cermin, kamu tuli, salammu saya dengar di hati, kamu tahu saya dengar
saat tengah hari, saya dan kamu sama-sama tahu matahari memekik-mekik di atas sana
kita berdua berpayung merah muda, dengan gagang yang sudah patah
berjalan pelan-pelan, bertanya tentang kabar, namun lebih sering diam karena saya sibuk tersenyum
senyum dengan bibir tertutup, jadi saya tidak bisa bicara, sunyi saja
kamu juga diam, mungkin tidak peduli mau bicara apa
lalu saya melepas sepatu dan kamu juga lepas dari payung merah jambu
payungnya terkatup sekarang, tergantung di dinding siap ditanyai, sedang apa dia, sedang apa dia, sedang apa dia?
saya bertanya sampai saya tertidur
saat langit merah tua terkadang kita bertukar surat, meskipun lebih sering saya yang mengetuk pintumu
mungkin kamu juga sibuk bertanya pada payungmu hingga lelah dan terlelap
saya bilang lihat jari saya merah karena kamu tak kunjung membuka pintu
kamu diam saja, saya tersenyum saja, jari saya memerah saga
saya menari di depanmu dan merajuk, kamu berkedip sekali dua kali, kamu bilang itu artinya isyarat ya-ya-ya
mari beranjak dari sini, bayangan kita semakin hilang
bertukar selamat malam dan menyimpan senyum penuh-penuh di saku baju
kemudian menatanya di langit-langit kamar supaya saya bisa menghitungnya hingga terlelap
pagi satu, pagi dua, pagi tiga,
bayangmu di cermin tinggal separuh
separuh dan selanjutnya kamu tidak datang lagi
saya bilang selamat pagi sendiri, entah kepada siapa saya menawari kopi
lalu saya melihat lagi lengkungan bulan,
di atasnya pria memancing dari dulu, memancing bintang untuk lauk makan malam kita
terkadang bayangan di bulan itu kamu dan suratmu
malam-malam kamu tidak datang, saya sampaikan salam saja pada bulan, halo selamat malam
lewat perantara bulan saya mendengar jawaban: aku tak datang

Kamis, 21 April 2011

Manusia Satu Dua

orang bilang magnet bisa menarik besi,
dan gravitasi bisa menjaga kita berpijak di bumi,
maka kamulah yang membuat saya tetap di sini
duduk diam tenang-tenang
membujuk debu untuk menemani, merajuk angin supaya tidak bertiup kencang-kencang, biar saya tidak masuk angin
saya cuma melihat, kamu kadang putih kadang hitam
kita berselang satu hari bertemu, dua hari melihat, dan tiga hari untuk melamun-lamun
duduk lagi dan kadang menguap, menyilang kaki, dan bertopang dagu
saya mau meniru saja, seperti itu tadi, bertopang dagu dan menyilang kaki
kenapa tidak mendapat teman, dia cuma diam diabaikan, saya tidak bisa menjawab, kenapa?
namun terkadang ingatan berkhianat
saya mengingat dan terdiam lagi, dengan cara berbeda, tidak lagi menyilang kaki dan bertopang dagu
ingatan hilang muncul sebentar, seperti kecipak air di sungai yang tiba-tiba tenang lagi
bahkan sepatah katapun tidak
kamu tidak tahu saya menunggu, mungkin memang tidak mau tahu
bicaralah, biar saya terkejut mendengar suaramu
menyingkirlah, biar saya bisa bebas menari di sungai

Sabtu, 26 Maret 2011

Sesi Curhat #3

Kalau diukur dengan mental status examination, isi pembicaraan saya mungkin dianggap melompat-lompat dan tidak sinkron. Tapi ini kan tulisan, bukan ngomong. Jadi sebenernya enggak peduli sih saya mau tulis apa di sini. Masa bodo.
I dont care.
Hmmm, sudah berapa hari ya, seminggu lebih mungkin. Terganggukah saya? Tidak ternyata. Ternyata tidak sesulit itu. Tapi kalau kamu memulainya lagi, mungkin lebih susah bagi saya untuk menghindar.
Berkali-kali saya mencoba untuk menahan diri, mencoba ikut-ikutan angkuh, tapi saya selalu kalah. Saya yang lelah jadinya.
Kalau kata Lenka: "I wont let him win but Im a sucker for his charm".
Kamu enggak tahu sih, bagaimana bisa tahu kalau saya sendiri juga nggak tahu. Berulang kali menyesal dan bilang "yaaah" tapi enggak berguna juga. Menyesal itu remorse, itu emosi kompleks campuran dari emosi dasar sadness dan disgust, kata Plutchik.
Saya sudah berjanji ke diri saya, dan bahkan janji itu saya langgar sendiri. Seharusnya saya menyiapkan punishment tiap kali melanggar, supaya saya jera.
Itu teori, saudara-saudara.
Lalu apa lagi, saya nggak tahu betapa saat ini dan saat itu bisa begitu berbeda.
Mengenang, lalu saya jadi sentimen, hei ini tidak mudah.
Entah kapan saya tidak lagi jadi parasit, saya mau hubungan kita simbiosis mutualisme, bukan parasitisme begini. Maaf.
Berbeda ya, saat saya mengangguk setuju, kamu menggeleng, saat saya berpendapat begini, kamu bilang sebaliknya. Ya sudahlah, memang jauh sekali ya isi pikiran kita. Kamu rasional, saya di luar batas. Bagaimana bisa kita bicara tenang-tenang.
Tapi inkonsistensi terjadi sungguhan, sebenarnya saya jengkel, tapi entah kenapa saya senyum-senyum terus, dasar kamu penyihir.

Sesi Curhat #2

Di kamar saya sekarang ada kalender, sudah bulan ketiga tapi baru pasang kalender. Enggak apa juga, toh masih ada sembilan bulan lagi.
Tiap lihat kalender, saya jadi kangen rumah, karena di rumah banyak kalender dan bapak saya suka melingkari tanggal dan membuat catatan di situ. Saya kasih tahu ya, tulisan bapak saya susah banget dibaca, jadi catetan itu hanya beliau yang tahu. Kayaknya kalo nulis diary juga nggak ketauan, hehe.
Jadi ingat dulu saya sering diminta koreksi jawaban ulangan murid-murid bapak, terus kalo ada surat pasti ibu yang nulis, karena tulisan ibu bagus. Saya suka diminta membantu koreksi, tapi kalo kebanyakan capek juga, berlembar-lembar loh, satu kelas empat puluh anak, terus setidaknya ada empat kelas. Waktu saya masuk SMA tempat bapak ngajar, terus kenal senior, saya sekilas ingat, oh ini mas yang pinter, oh ini mbak yang nilainya segini, atau oh ini toh mas yang tulisannya bagus. Cuma tahu nama, enggak kenal muka, haha.
Tahun di kalender saya 2011, ya iyalah karena sekarang emang tahun segitu. Tapi saya pernah masuk ke rumah yang di dindingnya ada kalender tahun 1999-2010 yang masih dipasang. Keren sekali. Berarti sejak saya umur sembilan sampai sekarang dua puluh. Kalendernya masih aja dipasang, semuanya menunjukkan bulan desember, gambarnya mbak-mbak cantik, kebanyakan kalender gratisan dari toko emas.
Bapak saya juga masih menyimpan rekening listrik dari pertama kali punya rumah sampai sekarang. Kemarin dulu waktu saya minta dikirimin rekening listrik dan telepon buat persyaratan beasiswa, bahkan bapak nanya mau dikirim yang dari taun berapa, sementara saya cuma butuh tiga bulan terakhir. Ah, ada ada aja ya bapak saya. Terus bapak juga rajin menyimpan arsip, kami punya satu folder masing-masing, punya bapak, punya ibu, punya saya, punya beti, punya obi, dan punya dona. Saya sebut semuanya karena kangen. Di folder itu ada akte, ijazah, piagam, nilai rapot dari kelas satu SD, bahkan potongan kalender bulan kelahiran saya, kuitansi rumah sakit, dan sebagainya. Tring tring tring.
Kalau ibu saya suka mengantisipasi. Saya kemarin minta dikirimi slip gaji bapak-ibu dan kartu keluarga, butuhnya cuma selembar sebetulnya. Tapi ibu kirim masing-masing lebih dari tiga rangkap, buat cadangan, begitu.
Terus tiap saya mau balik ke depok, pasti dibawain macem-macem. Padahal saya udah bilang enggak usah. Tapi tetap aja, kata beliau sedikit, tau-tau kok sekardus, kalau-kalau ada teman yang main, kan ada cemilan begitu kata beliau.
Lalu tiap ada tugas prakarya dari sekolah, ibu yang ribut siap-siap. Soalnya saya suka lupa, kalau nggak jauh-jauh hari ngomongnya, bisa-bisa diomelin ibu. Setiap malam selalu diminta beresin tas buat besok paginya. Dulu saya nggak habis pikir, maksudnya kan bisa besok pagi aja sebelum berangkat sekolah. Tapi kata ibu, takut ada tugas yang belum dikerjain atau takut besok bangun kesiangan, atau apa lagi yang lain. Saya orangnya males sih, jadi kadang saya enggak beresin tas, dan betul, paginya saya kelabakan. Sekarang saya yang ribut ke obi dan dona kalau lagi di rumah, minta beres-beres tas mereka malamnya. Like mother, like daughter.

Kelar ujian ini saya kepengen pulang, kangen juga ketemu si Mio, udah gede belum ya. Tapi saya baru selesai ujian hari Kamis lalu Seninnya kuliah kayak biasa, pulang enggak pulang enggak pulang enggak pulang..

Sesi Curhat #1

Earth hour itu artinya jam bumi, atau bumi jam terserah kamu mau bilang apa.
Orang-orang diminta mematikan lampu dari jam setengah sembilan sampai jam setengah sepuluh. Tapi saya tidak, tetangga kostan juga tidak.
Malah mereka berisik banget pakai speaker dan banyak lampu karena ada turnamen futsal kalo gak salah.
Saya bukannya mau jahat sama bumi, kalau saya matiin lampu nanti saya ngantuk terus ketiduran terus enggak belajar. Saya matikan lampu saat keluar makan tadi, dan selama tidur sampai pagi dan siang juga saya matikan lampu. Saya enggak jahat kan ya?

Saya dari tadi baca tapi enggak masuk-masuk materinya. Besok senin itu metode pengukuran bakat dan inteligensi.
Kepala saya lagi cenat-cenut, sampai waktu saya tutupin kepala pakai bantal terdengar bunyi "nyut-nyut" begitu.
Saya obrak-abrik laci dan nemu obat sakit kepala, mau minum tapi takut nanti ngantuk. Lagi-lagi belajar. Gimana ya caranya biar cepat hafal?
Enggak ngerti ini.

Seharian cuma di kamar, kapan lagi bisa santai begini. Kayak orang sakit tapinya ya.
Saya bahkan enggak punya kartu PKM, ke rumah sakit di dekat kostan cuma jengukin teman. Kalau sakit cuma cenat-cenut sebentar (semoga). Saya anak sehat, haha.

Orang di luar berisik sekali ya, bolak-balik, mondar-mandir. Apalagi di jalan raya di depan, pasti macet karena malam minggu.
Terus asapnya kemana-mana, kasian ya atmosfernya. Kayaknya lebih cenat-cenut lagi.

Ngomong-ngomong tentang cenat-cenut, saya jadi ingat smash, jumat kemarin penasaran nonton sinetron mereka sama temen-temen terus bukannya memahami cerita, malah ketawa-ketawa karena konyol, hahaha begitu.
Terus juga saya enggak suka banget sama iklan kartu as yang snow white, soalnya pake bawa-bawa mba kuntinya xl.
Kenapa sih kartu as sensi banget sama xl semenjak sule jadi bintang iklannya? Emangnya xl salah apa yak?
Kemaren baim dibawa-bawa, sebelumnya sule ngomong "udah kapok diboongin anak kecil", terus sekarang mba kuntinya dibawa-bawa. Enggak jelas.
Saya jadi agak enggak suka sama xl dan sule, kasian ya mereka kehilangan satu penggemar.

Moodswing, kayaknya begitu, apa mungkin karena saya lagi pusing ya.
Saya pengen main kemana gitu tapi kan saya lagi ujian.
Kata orang tua sih kalo kebanyakan ketawa nanti pasti nangis. Saya enggak mau ketawa-ketawa pas main terus nangis pas ujian. Tapi capek juga, saya jadi pingin joget-joget.
Pusing pusing pusing. Hiks.

Kamis, 21 Oktober 2010

Jendela

Kamis, 21 Oktober 2010 06:59



Bulan ini saya hidup ditemani jendela, ditemani langit, ditemani matahari di siang hari, ditemani tetesan hujan, embun, angin dan bulan di malam hari.
Rasanya menyenangkan, ada jendela di kamar saya sekarang.
Saya merasa bisa menggambar di langit kapanpun,mengucap salam pagi, bisa menatap jalanan, menghitung orang yang datang dan pergi.
Semuanya datang dan pergi.
Tidak ada yang berlama-lama.
Dengan langkah-langkah satu-satu. Satu-tuk dua-tuk tiga-tuk.

Saya menyukai jendela. Saya menyukai yang bisa saya lihat darinya.
Saya pernah punya jendela lain, yang sama indah dan menyenangkan. Jendela dimana saya mengantarmu berangkat dan menjemputmu pulang.

Jendela di rumah seberang bertirai merah muda.
Jendelaku bertirai kuning tua.
Apa warna tiraimu?

Rabu, 20 Oktober 2010

Ingatan


Rabu, 20 Oktober 2010, 6:08

Pagi diawali dengan sapaan "are you ready kids-ready captains-i can't hear you-ready captains..."
Yah, saya tahu kamu semua familiar dengan sapaan tersebut.
Beberapa tahun lagi, apakah saya akan masih ingat dengan kalimat-kalimat itu? Semoga..
Dulu, jaman saya masih muda, saya familiar dengan kata-kata katalis, enzim telomerase, peptin, stoikiometri, gravitasi, gaya berat, dan sebagainya.

Sekarang?
Saya cuma ingat waktu guru saya menuliskan kata 'stoikiometri' di papan tulis, saya tertakjub-takjub(?).
Nulisnya aja susah, apalagi ngomongnya --"
Ingatan saya selebihnya?
Nggak ada.

Saya tahu semua hal terus berjalan maju. Semuanya, kecuali kendaraan yang mundur, orang kurang kerjaan jalan mundur, jam yang diputar mundur, dan undur-undur.
Dan pikiran kita bisa maju mundur, dengan kecepatan super.

Tapi ingatan kita tidak super.
Saya tidak bisa mengingat semua sensasi yang pernah masuk, saya tidak bisa mengingat semua persepsi yang pernah saya rasakan.
Saya tidak memberi cukup atensi ke banyak hal sehingga mereka bisa masuk ke ingatan jangka panjang saya.

Saya tidak ingat tulisan-tulisan di iklan yang saya lihat sekilas.
Saya tidak ingat siapa saja yang ada di warteg waktu saya sarapan kemarin.
Saya tidak ingat berapa nomer hape teman sd saya.
Saya tidak ingat apa yang dikatakan dosen waktu saya kuliah psikometri kemarin.

Tetapi saat saya memberi perhatian dan memberikan sedikit perasaan untuk suatu hal, secara otomatis mereka ada di ingatan jangka panjang saya, nggak bisa lupa.
Saya ingat lirik lagu di iklan Sinta-Jojo. Ingat banget malah.
Saya ingat film yang saya tonton kemarin, detailnya.
Saya ingat perjalanan saya waktu mudik lebaran kemarin.
Saya ingat berapa uang yang ada di dompet saya.
Saya ingat bahwa beasiswa saya belum turun juga, mungkin ada kaitannya sama penggantian rekening saya tempo hari.

Semua hal-hal itu, hanya hal-hal kecil yang saya beri sedikit perhatian.
Cuma sedikit saja.
Apalagi untuk hal yang saya beri perhatian lebih, yang saya berikan segenap rasa.
Bukan cuma nempel di ingatan jangkan panjang.
Tapi sudah terukir, dipahat. Permanen. tidak bisa dihapus.

Di antara hal-hal yang itu, ada kamu, dia, dan mereka.
Orang-orang tersayang yang mengisi hari-hari saya dengan senyum, perhatian, bantuan, tangisan, sakit hati, semuanya.
Kamu, dia, dan mereka saya simpan di kotak khusus yang judulnya VIP. Very Important Person. To me.

Sekarang, apakah kamu juga punya kotak kayak gitu?
Apa saya juga diberi perhatian lebih?
Apa saya masuk ke ingatan jangka panjangmu?
Apakah kamu bisa mengingat saya tanpa perlu susah payah memutar ingatan maju mundur?
Kalau iya, itu cukup. Terimakasih ya.

Rabu, 29 September 2010

Deklarasi

Rabu, 29 September 2010

15 Hal yang (Tidak) Harus Kamu Tahu Tentang "Saya":




1. Saya benci menjadi kelinci yang selalu takut-takut memandang ke atas, ke langit, dan berlari tiap ada sedikit bayangan kecil. Yang dia kira elang.
Saya ingin memandang langit dengan bebas, tanpa takut. Berlari. Atau mengepak?
Apa saya harus jadi elang untuk itu?

2. Saya pernah berjanji ke diri saya sendiri untuk menuliskan sesuatu hal baik tentang orang lain lakukan ke saya, supaya suatu saat saya bisa membalasnya.
Tetapi ternyata saya tidak sanggup, banyak sekali.
Mungkin saya butuh kitab yang tebal, saking banyaknya yang harus saya tulis.

3. Saya suka mengamati orang. Dari cara jalan, cara berpakaian, cara berbicara. Menakjubkan sekali ya orang-orang itu. Mungkin bisa diadakan penelitian mengenai sifat-sifat orang dengan cara observasi saja. Suruh ayam mengobservasi, dan mereka akan menulis: Kreatif kali orang-orang tu, kaum awak dibuat bermacam-macam lauk di warung (ayamnya dari Malaysia).
Tapi carilah ayam yang obyektif, jangan ayam yang pilih kasih. Nanti dia cuma tulis yang baik-baik tentang majikannya. Nggak valid.

4. Saya suka sekali bermimpi. Mimpi saya akhir-akhir ini kayak labirin. Kadang saya terbangun di mimpi yang lain. Sampai-sampai pas bangun betulan saya bingung, ini mimpi atau bukan. Saya siapa hari ini? Saya? Aku? Kamu? Atau kupu-kupu?

5. Saya profesional dalam berteman. Saya pernah punya bermacam-macam teman. Saya tahu bahwa saya harus menjauh dari teman yang suka menjelek-jelekkan orang lain karena suatu saat pasti dia akan menjelek-jelekkan saya di depan orang lain. Yah, bukannya ada yang bisa dijelek-jelekkan dari saya sih. Haha.

6. Saya tidak tahu siapa yang benar-benar mengenal saya sendiri. Bahkan diri saya pun tidak. Tiap hari saya belajar hal baru mengenai diri saya sendiri. Saya baru tahu saya begini, bahwa saya begitu. Mencoba dan menguji. Lalu direparasi. Kayak mesin.

7. Saya suka sekali quote "A secret makes a woman, woman". Makanya saya suka heran sama orang yang hobi sekali mengumbar setiap detik kegiatan atau perasaannya di jejaring sosial. Atau hobi sekali curhat mengenai setiap detik dan detail kehidupannya. Saya pikir: Wah, mereka kayak buku yang bisa dibaca tiap lembarnya, pake kaca pembesar pula. Jelas, sampai kita bisa kenal dia luar dalam cuma dari facebook/twitter/apalah itu namanya.

8. Saya sangat menyukai kata "misterius". Kelihatan keren. Membuat penasaran. Inilah kenapa saya ingin sekali jadi mata-mata dan hobi saya nonton Spy Kids.

9. Saya masih 19 tahun saat saya menulis ini. Saya nggak mau buru-buru 20. Kepala dua. Makanya saya ingin menikmati saat-saat usia remaja yang membahagiakan ini. Saya suka menjadi yang termuda di antara teman-teman saya. Jangan lupa ya, sembilan-belas, belum dua-puluh. I'm not a girl, yet a woman.

10. Saya suka membuat orang lain merasa spesial. Siapa sih yang tidak suka di-spesial-kan? Cukup dengan hal-hal kecil saja kamu sudah bisa membuat orang lain merasa spesial. Tersenyumlah dan sapa saat bertemu. Ucapkan "selamat" di hari bahagianya. Bagi bingkisan kecil saat dia ulang tahun. Lupakan hutang-hutang kecil. Dengarkan ceritanya. Ingat hal-hal tentangnya. Mudah bukan?

11. Saya sedih kalau saya tidak peka. Sayangnya ini sering sekali terjadi. Saya sering menjadi orang yang terakhir tahu mengenai kabar teman-teman saya. Tentang suatu peristiwa. Saya terkadang lupa dan ceroboh. Membuat saya menyesal karena saya tidak tahu lebih awal. Kan saya bisa membantu kalau tahu. Kan saya bisa berusaha. Kan...(tapi telat, huks huks).

12. Saya tidak manja. Sungguh saya berusaha untuk tidak manja. Tolong jangan bilang saya manja. Sebagai anak sulung yang punya tiga adik saya tidak boleh manja.

13. Saya menyukai saat namamu muncul di layar ponsel saya. Sadarkah kamu saya tak butuh waktu lama untuk membalas pesanmu?

14. Saya mencintai bulan yang indah. Saya bercita-cita tidur di atap kostan. Sudah pernah sih, tapi cuma sebentar. Sekarang mungkin udah nggak bisa karena langitnya tertutup gedung apartemen yang baru dibangun itu.

15. Saya suka rangkaian kata-kata. Saya suka menulis sms. Saya suka merangkai huruf.
Abcdefghijklmnopqrstuvwxyz...abc lagi
Dari 26 huruf saja sudah bisa terciptakan banyak kata dan makna yang menakjubkan.
Kalau saya jadi huruf, saya mau jadi huruf Z.
Z yang ada dua di nama saya.
Z yang jarang dipakai.
Zzzzz yang berarti tidur. Saya suka tidur. Suka suka suka sekali sampai sekarang saya mau tidur saja.

Rabu, 08 September 2010

Malam-malam Hujan Sore


Hujan.
Kemarin, kemarin lusa, dan hari ini hujan. Langit seperti menangis saking banyaknya air yang tumpah.
Dan dua hujan terakhirku cantik sekali.
Karena ada kau bersamaku menunggu terang.

Yah, sebenernya kalimat pembuka di atas agaklah lebay melambai.
Saya yakin kalimat itu nggak ada artinya apapun buat anda. Tapi buat saya dan para alter ego saya, itu berarti sangat banyak. Biarlah saja, ini dikarenakan disorientasi karena saya lama nggak nulis. Harap maklum kawan.

Saya suka hujan. Saya tidak suka hujan.
Saya plin plan. Ya.

Saya suka hujan karena bau tanah yang tersiram hujan mengingatkan saya pada rumah, buku yang baru dibuka, dan selimut hangat.
Saya suka hujan karena kita bisa menangis di bawah hujan. Tidak ada orang yang mau repot-repot membedakan apakah itu air mata atau air hujan. Toh sama saja basah.
Saya suka hujan karena bisa dijadikan alasan untuk tidak datang ke janji yang menyebalkan (kalau ada).
Saya suka hujan karena hujan membuat saya sah-sah saja untuk lebih lama tiduran di kasur dan minum susu hangat.
Saya suka hujan karena waktu hujan itu kita menunggu di halte yang sama, meskipun lidah saya kelu karena tak sanggup bicara kedinginan.
Saya suka hujan karena berharap setelahnya ada pelangi dan saya bisa kebagian duit dari guci harta karun yang disembunyikan kurcaci.

Kadang kalau lagi labil saya suka menjulurkan tangan saya keluar jendela. Menadah hujan. Berharap dengan seperti itu saya bisa ikut meleleh ke tanah bersama hujan.
Sayangnya akhir-akhir ini saya sering sekali kambuh labilnya. Sayangnya juga di kostan saya nggak ada jendela buat main leleh-lelehan kayak gitu.
Dan di rumah saya nggak bakal sempet mainan hujan karena terlalu sibuk menjadi Ijah Pelayan Seksi.
Kasian ya?
Iya memang, begitulah nasib.

Sore ini juga hujan. Tapi tidak cantik.
Langitnya terlalu cengeng hari ini. Terlalu banyak air yang tumpah.
Hujan merah, hujan hijau, dan hari ini (mungkin) hujan jingga.
Apa itu?
Cuma saya, Tuhan, dan hujan yang tahu.

Sesorean saya sibuk menghirup-hirup bau hujan. Bernapas pelan dan dalam sambil tiduran.
Berharap ada aroma dua hari lalu.
Tapi tidak.
Karena hujannya terlalu lama, yang tercium malah aroma sampah yang terbawa air hujan.
Sungguh tidak sama.

Oh iya, saya juga tidak suka hujan.
Kalau saya adalah Sybil yang punya 16 kepribadian, mungkin kesukaan dan ketidaksukaan saya terhadap hujan akan sama rata bagiannya.
Jadi 8 kepribadian mencintai hujan. Dan 8 kepribadian lainnya membenci hujan.
Tapi saya bukan Sybil.
Saya cuma satu orang, yang kadang suka dan kadang tidak terhadap hujan.

Saya tidak suka hujan kalau dia datang sepulang saya kuliah, membuat sepatu, baju, dan barang bawaan saya basah.
Saya tidak suka hujan ketika hujan membuat janji yang sudah saya nanti-nantikan jadi batal.
Saya tidak suka hujan yang bikin banjir. Sama sekali tidak romantis.
Saya tidak suka hujan kalau disertai suara gluduk-gluduk yang membuat saya harus menutup jendela, mematikan tivi dan laptop karena takut kesamber petir..
Saya tidak suka hujan karena hujan waktu itu membuat kamu pulang duluan sebelum hujannya makin lebat.

Meskipun perasaan saya nggak menentu terhadap hujan, bagi saya hujan adalah nyanyian pengantar tidur yang indah.
Lullaby.
Ssstt....

Rabu, 18 Agustus 2010

Sepulangnya Malam Ini


Rabu, 18 Agustus 2010

Berbicara itu menyenangkan.
Apalagi jika kamu berbicara kepada orang yang tepat.
Yang bisa mengerti apa yang kamu omongkan tanpa harus mikir.

Menulis itu juga menyenangkan.
Melihat kata demi kata yang muncul di layar sementara jari kamu berketak-ketuk di atas keyboard.

Saya bukannya tukang bicara ataupun tukang menulis.
Saya cuma suka berbicara dan menulis.

Saya suka menulis dan berbicara malam-malam karena malam itu tenang dan ada bulan.

Saya suka menulis dan berbicara pagi-pagi karena pagi hari udaranya sejuk dan saya masih bisa main-main sama selimut saya.

Saya suka menulis dan berbicara siang-siang karena siang adalah waktunya beraktivitas dan bersemangat hore-hore.

Saya suka menulis dan berbicara sore-sore karena waktu sore adalah waktu yang santai, saat semua orang sudah pulang, mandi, dan duduk manis nonton tivi.

Jadi intinya, semua waktu itu indah enggak ada alasan untuk tidak melakukan sesuatu.

Saya suka bercerita. Banyak bahan cerita yang bisa saya sampaikan.
Apalagi kalau saya mulai bercerita tentang dia, kamu, dan mereka.

Saya bukanlah story-teller.
Cerita Keong Mas pun saya tak hafal urutan ceritanya. Saya cuma hapal lagu Keong Racun.
Tapi itu bukanlah sebuah cerita.

Saya cuma orang yang suka ngelamun dan berbisik-bisik ke notes saya.
Bercerita (lagi) tentang dia, kamu,dan mereka.

Saya ingin berterimakasih kepada orang yang mau mendengarkan saya.
Dia, kamu, dan mereka: terima kasih ya...
Salam kecup dan cinta seluas samudra.

Selasa, 17 Agustus 2010

Postingan Tujuhbelasan


Hallo, my name is Azizah. I'm Indonesian and I'm not a terrorist.

Sekarang Indonesia ulang tahun ke 65.
Sudah tua meskipun lebih tua eyang saya.
Jadi saya ucapkan:
Selamat ulang tahun Indonesia. Semoga kau bisa membuat kami makin mencintaimu. Wish you all the best!

Saya lahir di Indonesia.
Saya orang Indonesia tulen, nggak ada unsur-unsur bulenya sama sekali meskipun banyak yang bilang Bapak saya kayak orang Arab.

Sejak kecil saya ngomong pake bahasa Indonesia. Bahasa Jawa juga.
Kalau ngomong bahasa Inggris saya gagap sendiri. Keliatan kan betapa saya cinta bahasa Indonesia.

Saya tau Indonesia pernah dijajah Belanda dan Jepang.
Tapi saya tetep pengen sekolah di Belanda.
Biar pinter trus jadi orang kaya.
(Benar-benar cita-cita anak kecil :P)

Meskipun termasuk dalam golongan orang yang belum bisa menikmati kekayaan Indonesia, saya mencintai Indonesia apa adanya.
Negara mana lagi sih yang punya ribuan pulau selain Indonesia?
Jutaan spesies flora fauna yang nggak ada di tempat lain?
Cuma di sini, Indonesia.

Mungkin klise banget saya ngomong kayak gitu.
Sementara di sekitar saya tinggal masih banyak sekali orang yang enggak bangga dengan produk sendiri.
Masih malu pake batik misalnya.
Atau nganggep lagu keroncong dan campursari itu cupu.
Atau milih liburan ke luar negeri sementara tempat wisata di negeri sendiri masih belum dikunjungi.

Yah di antara orang-orang itu, ada saya.
Nggak munafik dong.
Saya nggak sebegitu cintanya sama Indonesia sampai menutup diri dari budaya luar.
Saya masih nonton X-men, Harry Potter, baca novel terjemahan, dll.
Saya nggak kemana-mana pake batik, rambut disanggul, dan nari di jalan.
Tidak, tidak seekstrim itu.

Selama 65 tahun ini, rakyat Indonesia selalu mendoakan negerinya untuk jadi lebih baik di tahun berikutnya.
Tapi sayangnya, dari tahun ke tahun doanya sama terus.
Itu berarti belum ada yang terwujud.
Jadi sedih..

Padahal menurut saya, untuk bisa mewujudkan Indonesia yang sesuai harapan, cukup satu tindakan kecil: cintailah Indonesia dengan tulus.

Cintai budayanya, maka kita pasti bersedia melestarikan.
Cintai alamnya, maka kita pasti akan bangga.
Cintai orangnya, maka kita nggak akan naksir sama bule-bule di tivi.

Saya sering main di omegle.com, iseng-iseng chatting buat ngisi waktu.
Tiap ditanya dari mana, saya selalu ngaku dengan jujur kalo saya dari Indonesia.
Dan tahukah anda,
hampir 70% orang yang chatting dengan saya langsung memutuskan hubungan.

Saya dicampakkan sodara-sodara.
Betapa sakit dan pedihnya hati ini rasanya.

Selain itu, ada yang bilang bahwa dia nggak tau Indonesia.
Dengan senang hati saya menjelaskan, promosi sampai berbusa.
Senang rasanya bisa memperkenalkan Indonesia meskipun lewat cara yang agak nggak penting gitu..

Yang lain, yang nggak memutuskan hubungan ataupun tanya-tanya tentang Indonesia agak-agak parah.
Mereka mencaci maki, bikin saya keki dan sedih.
Misalnya gini:
- Indonesia? Poor you..
- Are you starving?
- What the hell of Indonesia?!
- dll


Plis deh, Indonesia kan nggak gitu-gitu amat.
Yah meskipun di sana-sini masih banyak anak yang busung lapar dan putus sekolah karena kekurangan biaya, tapi itukah yang mereka lihat dari kita?
Kalo iya, betapa malangnya..

Saya, sebagai orang Indonesia, alhamdulillah hidup berkecukupan. Makan tiga kali sehari dan tidak kelaparan.

Sebagaimana anak Indonesia yang punya cita-cita tinggi, saya ingin suatu saat nanti bisa membantu Indonesia.
Mungkin saya nggak pinter politik, nggak bisa bikin penemuan baru, nggak secerdas Habibie.
Makanya saya nanti mau jadi orang kaya aja.
Kaya ilmu, kaya harta, kaya akhlak.
Biar bisa berbagi.
Amin.

Oya, tadi pas jalan-jalan di fesbuk, saya nemu link ini di profil temen: Negara Terkaya di Dunia.
Isinya bikin miris. Sedih.

Ini saya kutipkan puisi yang ada di dalamnya:

Judulnya Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia

Suatu hari Tuhan tersenyum puas melihat sebuah planet yang baru saja diciptakan- Nya. Malaikat pun bertanya, "Apa yang baru saja Engkau ciptakan, Tuhan?" "Lihatlah, Aku baru saja menciptakan sebuah planet biru yang bernama Bumi," kata Tuhan sambil menambahkan beberapa awan di atas daerah hutan hujan Amazon. Tuhan melanjutkan, "Ini akan menjadi planet yang luar biasa dari yang pernah Aku ciptakan. Di planet baru ini, segalanya akan terjadi secara seimbang".

Lalu Tuhan menjelaskan kepada malaikat tentang Benua Eropa. Di Eropa sebelah utara, Tuhan menciptakan tanah yang penuh peluang dan menyenangkan seperti Inggris, Skotlandia dan Perancis. Tetapi di daerah itu, Tuhan juga menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Di Eropa bagian selatan, Tuhan menciptakan masyarakat yang agak miskin, seperti Spanyol dan Portugal, tetapi banyak sinar matahari dan hangat serta pemandangan eksotis di Selat Gibraltar.

Lalu malaikat menunjuk sebuah kepulauan sambil berseru, "Lalu daerah apakah itu Tuhan?" "O, itu," kata Tuhan, "itu Indonesia. Negara yang sangat kaya dan sangat cantik di planet bumi. Ada jutaan flora dan fauna yang telah Aku ciptakan di sana. Ada jutaan ikan segar di laut yang siap panen. Banyak sinar matahari dan hujan. Penduduknya Ku ciptakan ramah tamah,suka menolong dan berkebudayaan yang beraneka warna. Mereka pekerja keras, siap hidup sederhana dan bersahaja serta mencintai seni."

Dengan terheran-heran, malaikat pun protes, "Lho, katanya tadi setiap negara akan diciptakan dengan keseimbangan. Kok Indonesia baik-baik semua. Lalu dimana letak keseimbangannya? "
Tuhan pun menjawab dalam bahasa Inggris, "Wait, until you see the idiots I put in the government." (tunggu sampai Saya menaruh 'idiot2' di pemerintahannya)

Rabu, 11 Agustus 2010

Ini Curhat, Sumpah Deh! (2)

Rabu, 11 Agustus 2010

Terhitung sudah tujuh hari saya tidak melongok blog ini.
Tidak, bukan karena saya mati suri.
Ini sih karena alasan menghemat bandwith saya yang tinggal dikit untuk dipakai registrasi akademik di SIAK-NG.

Buat Fakultas Psikologi Universitas Indonesia terutama angkatan 2008, registrasi akademik online adalah hal yang jauh lebih menakutkan daripada kebelet pipis tengah malem setelah nonton Masih Dunia Lain.
Sungguh ini jauh lebih mencekam.
Bayangkan saja, telat semenit, mata kuliah pilihan yang udah diincer-incer bakalan terjajah oleh yang lain.
Dan itu terjadi pada saya.

Registrasi dibuka tanggal 10 Agustus 2010 pukul 09:00 waktu SIAK-NG.
Mungkin SIAK letaknya sedikit berbeda sama Indonesia bagian barat, jadinya pukul 09:00-nya SIAK adalah pukul 08:52.
Untung kita semua cerdas-cerdas karena selalu minum multivitamin ikan cod yang mengandung omega tiga, jadi nggak ada yang tertipu dengan tipuan licik macam itu.

Setengah jam sebelumnya saya udah nongkrong di depan laptop, buka SIAK dan pejet-pejet tombol F5 berkali-kali.
Temen-temen saya juga kayak gitu.
Bener-bener deh, kami adalah pasukan yang sangat terlatih. Densus 88 kalah men!

Begitu tiba waktunya, muncullah form yang musti diisi.
Karena banyaknya orang yang akses, SIAK-nya error.
Untung punya saya nggak.
Jadi saya klik sana klik sini dengan tangan tremor, gemeter, mulut megap-megap, dan mata melotot (seperti tokoh om-om antagonis di lagu keong racun).
Kemudian "save".
Berhasil!

Saya dapet mata kuliah pilihan Adiksi dan Psikologi Arsitektur.
Posisi pertamax pula.
Senangnya sampai pengen loncat-loncat di genteng.

Nah, waktu di cek en ricek, saya ternyata belum ambil mata kuliah wajib, SDM.
Balik lagi dong saya ke form buat ngisi SDM.
Klik dan cek yang lain, masih oke seperti semula.
Adiksi dan Arsitektur juga masih nongkrong cantik di tempatnya.
Klik "Save" lagi.

Saat itulah terjadi error.

Error.
Error.
Dan Error.
Berkali-kali.

Sampai saya hopeless sekali.
Sampai tombol F5 teriak tolong-tolong karena saya pencet dengan tidak berperike-tombol-an.

Enggak inget deh udah berapa kali saya me-refresh halaman itu.
Berharap IRS saya udah kesimpen.

Setelah capek sampai hampir ketiduran, akhirnya SIAK-nya normal lagi, nggak ajeb-ajeb lagi.
Saya cek IRS saya.

Dan saya jerit-jerit sendiri.
Kenapa yang harusnya 22 sks (kalo nggak salah), cuma ada 16 sks?

Matkul pilihan saya ilang semua.

Takut salah liat, saya perdayakan lagi si F5.
Kali ini,
yang muncul cuma 9 sks!

Astagadragon..
Mau jadi apa saya kalo kuliah cuma 9 sks?
Ini sih sama saja menghambur-hamburkan duit orang tua.
Kalo orang tua saya punya pohon duit sih enggak apa.

Karena udah telanjur sebel, saya tutup semua itu jendela siak-nya.

Semoga nanti pas saya buka lagi, jadwal kuliah saya udah normal. Nggak labil kayak abege gini.

Setelah traffic SIAK mereda, saya coba intip lagi.
Bismillah.
Terbukalah.

Sayang doa saya nggak terkabul.
Cuma 16 sks.
Sampai sekarang.

Aaah sedihnya..

-the end-


Ah udah ah curhatnya, capek.
Hari ini hari puasa pertama 1431 H.
Mohon maaf lahir batin ya, semoga di hari pertama ini kita tidak tergoda dengan es kelapa muda, cendol, ayam goreng, batagor, buah apel, es jeruk, ikan bakar, dan lain sebagainya.

Lah, nulis aja saya jadi laper.
Astaghfirulloh, nakal banget ya ini tangan.

Happy fasting all! :D

Selasa, 03 Agustus 2010

Kau Tahu Kau Hebat


Tidak semuanya indah seperti mimpimu ketika kau membuka mata.
Mawar yang kau genggam mungkin akan tersisa durinya saja saat kau terjaga. Melukai jarimu yang lentik yang ingin kudekap. Tetapi cobalah, kau masih merasakan harum mawarnya.
Selalu ada rasa mengalah dan benci pada satu sisi.
Padahal bibir bilang aku mencintaimu.
Kalah bukanlah halangan untuk kemudian menang dan mencekiknya dengan fakta-fakta.
Kalah cuma sandungan kecil yang meleceti kakimu tapi tak membuat berdarah. Yang nanti bisa kau kasih lihat ke ibumu supaya dia mengelus kepalamu dan bilang jangan menangis.
Selalu ada rasa putus asa saat ujung jarimu tak mencapai jam dinding padahal kau ditugaskan membetulkannya.
Menangislah jika kau mau.
Kamu bisa menangis di kamar kalau tak mau orang lain tahu. Nyalakan musikmu keras-keras dan lemparkan dirimu ke kasur hangat seperti adegan yang sering kau lihat di sinetron.
Pipi yang basah membuatmu lega, membuatmu merasa segala duri sudah mencair meleleh dan keluar lewat mata. Kemudian kau bisa menghapusnya.
Sungguh masih ada tangga-tangga yang menantimu supaya kau bisa naik ke loteng dan melihat langit.
Melihat hamparan horison bergaris lurus yang sempurna tanpa bengkok. Menuliskan nama dan mimpimu di atas garis lurusnya seperti buku dengan huruf latin yang tak putus-putus.
Di loteng kau bisa menangis lagi. Tentu saja sekarang tak akan ketahuan karena angin akan langsung membawa air matamu jatuh ke belakang.
Menitik seperti gerimis pada hidung orang yang lewat. Yang kemudian menyangka akan segera turun hujan dan berlari kecil ke halte terdekat.
Tak sepantasnya kau merengek mengembik seperti orang kekurangan pangan, sementara di meja makanmu ada daging dan sayur kacang yang lezat. Kau hanya kehilangan satu mimpimu yang aku yakin suatu saat nanti akan terpental lagi kepadamu. Asal kau tak lupa saja sehingga saat dia hadir nanti kau bisa memeluknya hangat-hangat dan mempersilakannya minum teh. Kemudian kau mewujudkannya.
Aku mencintaimu meski kau tak bisa membetulkan jam dinding.



Asrama Bimbel Perhimak 2010, setelah pengumuman UMB

(ini saya versi serius loh)