Kamis, 23 Juni 2011
Hot Day!
Ini tengah malam dan saya enggak bisa tidur karena batuk-batuk. Saya udah minum obat biar batuknya reda dan bisa tidur, tapi kayaknya enggak mempan. Akhir-akhir ini saya jadi sering ngobat. Pusing sedikit minum obat, batuk sedikit minum obat, sakit perut minum obat. Lama-lama nanti saya jadi tukang obat. Karena tidak bisa tidur saya guling-guling di lantai dan baca buku. Saya juga nonton superman di tivi. Kenapa dia pakai celana di luar? Oh entahlah, terserah dia. Omong-omong, siapa sih yang punya blog ini? Kenapa nggak diurus? Mana isinya suram semua, ck ck ck. Aduh kenapa sih batuknya nggak mau berhenti, kenapa disini nggak hujan-hujan biar adem? Saya di depok lagi, biasanya kedinginan sekarang kepanasan mungkin karena itu jadi nggak bisa tidur. Saya mau tidur di lantai tapi takut masuk angin paginya. Kalau masuk angin saya jadi pusing, kalau pusing saya nggak mau ngapa-ngapain, kalau nggak mau ngapa-ngapain nanti saya nganggur, kalau nganggur nanti jadi galau. Kalau saya galau, nanti saya berbuat yang tidak-tidak, seperti misalnya ikutan solat jumat. Sekarang juga sedang dalam masa kegalauan magang karena saya tak kunjung dapat berita tentang magang saya. Hari ini ke kampus ambil surat magang tapi belum beres jadi musti nunggu lagi sambil makan dan bengong di depan perpustakaan. Mau daftar pengawas simak tapi keburu di tutup, sebel. Terus setelah ambil surat ternyata nggak jadi ke perusahaannya karena temen saya mau ke dokter. Akhirnya karena nggak tau mau ngapain saya naik bikun dari depan psikologi muter seluruh kampus sambil minum tolak angin. Terus saya turun di stasiun dan cari dvd untuk membunuh kebosanan ini. Pulang saya nonton dan ketiduran, lupa makan. Karena males keluar saya pesen makan antar dan makan dan kepanasan dan nonton lagi. Tuhan tolong beri saya magang -.-
Selasa, 14 Juni 2011
untitled
ini datar. rata. aku buta. tempurungnya rapat. aku tutup telinga. lupa. ya. entahlah. kamu dimana? setidaknya aku masih ada.
Kamis, 28 April 2011
Surat Buat yang Hilang:
Halo, ini untukmu:
membuka mata dan menggapai-gapaimu seperti biasa, namun kamu tidak di sana
sebenarnya kamu tidak pernah di sana, cuma saya yang mengada-ada
tapi biasanya meskipun itu bohongan, kamu tetap ada, mengucap selamat pagi dengan senyum lebar tiga jari
lalu saya balas: selamat pagi, kamu mau kopi?
kamu bilang tidak, seperti biasa, kamu bilang mau es krim
saya bilang nanti, karena hari masih pagi
selanjutnya saya beranjak bersujud dan meminta-minta sebentar, biasanya ketika saya menoleh lagi kamu hilang
tapi kamu akan kembali saat saya sudah di depan cermin dan bilang selamat menjalani hari
tidak saya balas karena kamu cuma di cermin, kamu tuli, salammu saya dengar di hati, kamu tahu saya dengar
saat tengah hari, saya dan kamu sama-sama tahu matahari memekik-mekik di atas sana
kita berdua berpayung merah muda, dengan gagang yang sudah patah
berjalan pelan-pelan, bertanya tentang kabar, namun lebih sering diam karena saya sibuk tersenyum
senyum dengan bibir tertutup, jadi saya tidak bisa bicara, sunyi saja
kamu juga diam, mungkin tidak peduli mau bicara apa
lalu saya melepas sepatu dan kamu juga lepas dari payung merah jambu
payungnya terkatup sekarang, tergantung di dinding siap ditanyai, sedang apa dia, sedang apa dia, sedang apa dia?
saya bertanya sampai saya tertidur
saat langit merah tua terkadang kita bertukar surat, meskipun lebih sering saya yang mengetuk pintumu
mungkin kamu juga sibuk bertanya pada payungmu hingga lelah dan terlelap
saya bilang lihat jari saya merah karena kamu tak kunjung membuka pintu
kamu diam saja, saya tersenyum saja, jari saya memerah saga
saya menari di depanmu dan merajuk, kamu berkedip sekali dua kali, kamu bilang itu artinya isyarat ya-ya-ya
mari beranjak dari sini, bayangan kita semakin hilang
bertukar selamat malam dan menyimpan senyum penuh-penuh di saku baju
kemudian menatanya di langit-langit kamar supaya saya bisa menghitungnya hingga terlelap
pagi satu, pagi dua, pagi tiga,
bayangmu di cermin tinggal separuh
separuh dan selanjutnya kamu tidak datang lagi
saya bilang selamat pagi sendiri, entah kepada siapa saya menawari kopi
lalu saya melihat lagi lengkungan bulan,
di atasnya pria memancing dari dulu, memancing bintang untuk lauk makan malam kita
terkadang bayangan di bulan itu kamu dan suratmu
malam-malam kamu tidak datang, saya sampaikan salam saja pada bulan, halo selamat malam
lewat perantara bulan saya mendengar jawaban: aku tak datang
membuka mata dan menggapai-gapaimu seperti biasa, namun kamu tidak di sana
sebenarnya kamu tidak pernah di sana, cuma saya yang mengada-ada
tapi biasanya meskipun itu bohongan, kamu tetap ada, mengucap selamat pagi dengan senyum lebar tiga jari
lalu saya balas: selamat pagi, kamu mau kopi?
kamu bilang tidak, seperti biasa, kamu bilang mau es krim
saya bilang nanti, karena hari masih pagi
selanjutnya saya beranjak bersujud dan meminta-minta sebentar, biasanya ketika saya menoleh lagi kamu hilang
tapi kamu akan kembali saat saya sudah di depan cermin dan bilang selamat menjalani hari
tidak saya balas karena kamu cuma di cermin, kamu tuli, salammu saya dengar di hati, kamu tahu saya dengar
saat tengah hari, saya dan kamu sama-sama tahu matahari memekik-mekik di atas sana
kita berdua berpayung merah muda, dengan gagang yang sudah patah
berjalan pelan-pelan, bertanya tentang kabar, namun lebih sering diam karena saya sibuk tersenyum
senyum dengan bibir tertutup, jadi saya tidak bisa bicara, sunyi saja
kamu juga diam, mungkin tidak peduli mau bicara apa
lalu saya melepas sepatu dan kamu juga lepas dari payung merah jambu
payungnya terkatup sekarang, tergantung di dinding siap ditanyai, sedang apa dia, sedang apa dia, sedang apa dia?
saya bertanya sampai saya tertidur
saat langit merah tua terkadang kita bertukar surat, meskipun lebih sering saya yang mengetuk pintumu
mungkin kamu juga sibuk bertanya pada payungmu hingga lelah dan terlelap
saya bilang lihat jari saya merah karena kamu tak kunjung membuka pintu
kamu diam saja, saya tersenyum saja, jari saya memerah saga
saya menari di depanmu dan merajuk, kamu berkedip sekali dua kali, kamu bilang itu artinya isyarat ya-ya-ya
mari beranjak dari sini, bayangan kita semakin hilang
bertukar selamat malam dan menyimpan senyum penuh-penuh di saku baju
kemudian menatanya di langit-langit kamar supaya saya bisa menghitungnya hingga terlelap
pagi satu, pagi dua, pagi tiga,
bayangmu di cermin tinggal separuh
separuh dan selanjutnya kamu tidak datang lagi
saya bilang selamat pagi sendiri, entah kepada siapa saya menawari kopi
lalu saya melihat lagi lengkungan bulan,
di atasnya pria memancing dari dulu, memancing bintang untuk lauk makan malam kita
terkadang bayangan di bulan itu kamu dan suratmu
malam-malam kamu tidak datang, saya sampaikan salam saja pada bulan, halo selamat malam
lewat perantara bulan saya mendengar jawaban: aku tak datang
Kamis, 21 April 2011
Manusia Satu Dua
orang bilang magnet bisa menarik besi,
dan gravitasi bisa menjaga kita berpijak di bumi,
maka kamulah yang membuat saya tetap di sini
duduk diam tenang-tenang
membujuk debu untuk menemani, merajuk angin supaya tidak bertiup kencang-kencang, biar saya tidak masuk angin
saya cuma melihat, kamu kadang putih kadang hitam
kita berselang satu hari bertemu, dua hari melihat, dan tiga hari untuk melamun-lamun
duduk lagi dan kadang menguap, menyilang kaki, dan bertopang dagu
saya mau meniru saja, seperti itu tadi, bertopang dagu dan menyilang kaki
kenapa tidak mendapat teman, dia cuma diam diabaikan, saya tidak bisa menjawab, kenapa?
namun terkadang ingatan berkhianat
saya mengingat dan terdiam lagi, dengan cara berbeda, tidak lagi menyilang kaki dan bertopang dagu
ingatan hilang muncul sebentar, seperti kecipak air di sungai yang tiba-tiba tenang lagi
bahkan sepatah katapun tidak
kamu tidak tahu saya menunggu, mungkin memang tidak mau tahu
bicaralah, biar saya terkejut mendengar suaramu
menyingkirlah, biar saya bisa bebas menari di sungai
dan gravitasi bisa menjaga kita berpijak di bumi,
maka kamulah yang membuat saya tetap di sini
duduk diam tenang-tenang
membujuk debu untuk menemani, merajuk angin supaya tidak bertiup kencang-kencang, biar saya tidak masuk angin
saya cuma melihat, kamu kadang putih kadang hitam
kita berselang satu hari bertemu, dua hari melihat, dan tiga hari untuk melamun-lamun
duduk lagi dan kadang menguap, menyilang kaki, dan bertopang dagu
saya mau meniru saja, seperti itu tadi, bertopang dagu dan menyilang kaki
kenapa tidak mendapat teman, dia cuma diam diabaikan, saya tidak bisa menjawab, kenapa?
namun terkadang ingatan berkhianat
saya mengingat dan terdiam lagi, dengan cara berbeda, tidak lagi menyilang kaki dan bertopang dagu
ingatan hilang muncul sebentar, seperti kecipak air di sungai yang tiba-tiba tenang lagi
bahkan sepatah katapun tidak
kamu tidak tahu saya menunggu, mungkin memang tidak mau tahu
bicaralah, biar saya terkejut mendengar suaramu
menyingkirlah, biar saya bisa bebas menari di sungai
Sabtu, 26 Maret 2011
Sesi Curhat #3
Kalau diukur dengan mental status examination, isi pembicaraan saya mungkin dianggap melompat-lompat dan tidak sinkron. Tapi ini kan tulisan, bukan ngomong. Jadi sebenernya enggak peduli sih saya mau tulis apa di sini. Masa bodo.
I dont care.
Hmmm, sudah berapa hari ya, seminggu lebih mungkin. Terganggukah saya? Tidak ternyata. Ternyata tidak sesulit itu. Tapi kalau kamu memulainya lagi, mungkin lebih susah bagi saya untuk menghindar.
Berkali-kali saya mencoba untuk menahan diri, mencoba ikut-ikutan angkuh, tapi saya selalu kalah. Saya yang lelah jadinya.
Kalau kata Lenka: "I wont let him win but Im a sucker for his charm".
Kamu enggak tahu sih, bagaimana bisa tahu kalau saya sendiri juga nggak tahu. Berulang kali menyesal dan bilang "yaaah" tapi enggak berguna juga. Menyesal itu remorse, itu emosi kompleks campuran dari emosi dasar sadness dan disgust, kata Plutchik.
Saya sudah berjanji ke diri saya, dan bahkan janji itu saya langgar sendiri. Seharusnya saya menyiapkan punishment tiap kali melanggar, supaya saya jera.
Itu teori, saudara-saudara.
Lalu apa lagi, saya nggak tahu betapa saat ini dan saat itu bisa begitu berbeda.
Mengenang, lalu saya jadi sentimen, hei ini tidak mudah.
Entah kapan saya tidak lagi jadi parasit, saya mau hubungan kita simbiosis mutualisme, bukan parasitisme begini. Maaf.
Berbeda ya, saat saya mengangguk setuju, kamu menggeleng, saat saya berpendapat begini, kamu bilang sebaliknya. Ya sudahlah, memang jauh sekali ya isi pikiran kita. Kamu rasional, saya di luar batas. Bagaimana bisa kita bicara tenang-tenang.
Tapi inkonsistensi terjadi sungguhan, sebenarnya saya jengkel, tapi entah kenapa saya senyum-senyum terus, dasar kamu penyihir.
I dont care.
Hmmm, sudah berapa hari ya, seminggu lebih mungkin. Terganggukah saya? Tidak ternyata. Ternyata tidak sesulit itu. Tapi kalau kamu memulainya lagi, mungkin lebih susah bagi saya untuk menghindar.
Berkali-kali saya mencoba untuk menahan diri, mencoba ikut-ikutan angkuh, tapi saya selalu kalah. Saya yang lelah jadinya.
Kalau kata Lenka: "I wont let him win but Im a sucker for his charm".
Kamu enggak tahu sih, bagaimana bisa tahu kalau saya sendiri juga nggak tahu. Berulang kali menyesal dan bilang "yaaah" tapi enggak berguna juga. Menyesal itu remorse, itu emosi kompleks campuran dari emosi dasar sadness dan disgust, kata Plutchik.
Saya sudah berjanji ke diri saya, dan bahkan janji itu saya langgar sendiri. Seharusnya saya menyiapkan punishment tiap kali melanggar, supaya saya jera.
Itu teori, saudara-saudara.
Lalu apa lagi, saya nggak tahu betapa saat ini dan saat itu bisa begitu berbeda.
Mengenang, lalu saya jadi sentimen, hei ini tidak mudah.
Entah kapan saya tidak lagi jadi parasit, saya mau hubungan kita simbiosis mutualisme, bukan parasitisme begini. Maaf.
Berbeda ya, saat saya mengangguk setuju, kamu menggeleng, saat saya berpendapat begini, kamu bilang sebaliknya. Ya sudahlah, memang jauh sekali ya isi pikiran kita. Kamu rasional, saya di luar batas. Bagaimana bisa kita bicara tenang-tenang.
Tapi inkonsistensi terjadi sungguhan, sebenarnya saya jengkel, tapi entah kenapa saya senyum-senyum terus, dasar kamu penyihir.
Langganan:
Postingan (Atom)